Lagi-lagi, konflik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar. Kali ini, saham-saham batu bara di Bursa Efek Indonesia yang mendapat angin segar. Lonjakan harga komoditas energi global, didorong situasi geopolitik yang memanas, membuat sektor ini kembali bersinar.
Mayoritas emiten batu bara tercatat menguat, baik dalam rentang sepekan maupun sebulan terakhir. Menurut William Hartanto dari WH Project, sentimen krisis energi adalah pendorong utamanya.
Pandangan itu sejalan dengan data pergerakan saham. PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), misalnya, melesat 26,49 persen dalam sebulan ke level Rp29.725. PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) juga tak kalah perkasa, naik 13,89 persen ke Rp11.275.
Di sisi lain, PT Bukit Asam (PTBA) menguat 15,64 persen, sementara United Tractors (UNTR) dan ABM Investama (ABMM) masing-masing naik 8,19 persen dan 5,78 persen dalam periode yang sama. Hanya Harum Energy (HRUM) yang tampak tertahan, terkoreksi 15 persen dalam sebulan meski sempat naik tipis sepekan.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan komoditas ini? Rupanya, harga batu bara global sendiri sedang meroket. Data terbaru menunjukkan harganya menembus USD140 per ton, dengan peluang kenaikan lebih dari 20 persen sepanjang Maret. Ini jadi lonjakan bulanan terbesar sejak puncak perang Rusia-Ukraina dua tahun silam.
Artikel Terkait
BEI Cabut Suspensi Saham FITT, Saham ASPR Justru Dikenai Suspensi
Harga Emas Antam Naik Rp75 Ribu per Gram, Buyback Melonjak Rp110 Ribu
BEI Naikkan Batas Minimum Free Float Saham Jadi 15 Persen
KPIG Catat Pendapatan Rp2,6 Triliun di 2025, Didorong Lido City dan Sektor Perhotelan