Harga Emas Menguat Dua Hari Berturut-turut, tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga

- Selasa, 31 Maret 2026 | 07:40 WIB
Harga Emas Menguat Dua Hari Berturut-turut, tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga

Memang, emas sering diandalkan sebagai tameng melawan inflasi dan ketidakpastian. Tapi logam ini punya kelemahan: ia tidak memberikan imbal hasil. Jadi, ketika suku bunga melambung tinggi, daya tariknya langsung memudar.

Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell sedikit memberi ruang. Ia bilang bank sentral AS masih bisa bersabar, menunggu untuk melihat dampak perang Iran terhadap perekonomian dan inflasi sebelum bertindak. The Fed sendiri belum lama ini mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.

Nah, pekan ini sejumlah data ekonomi AS akan dirilis. Mulai dari data lowongan kerja, penjualan ritel, sampai laporan ketenagakerjaan. Data-data ini tentu akan jadi bahan pertimbangan penting untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.

Lalu, ke mana harga emas akan bergerak? Fawad Razaqzada, analis dari City Index dan FOREX.com, menyoroti area USD4.700-USD4.750 sebagai zona kritis.

"Area itu jadi zona uji bagi pemulihan jangka pendek," katanya. Ia mengingatkan, jika harga gagal menembus level tersebut, rally yang terjadi sekarang berisiko kehilangan momentum dan berakhir seperti kenaikan-kenaikan sebelumnya yang cuma sesaat.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga ikut merangkak naik. Perak spot naik 1 persen ke USD70,27 per ons. Platinum menguat 1,6 persen, dan palladium bahkan melonjak 2,9 persen. Mereka sepertinya ikut menikmati sedikit sentimen positif yang tersisa di pasar.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar