Memang, peran insentif itu besar banget. Terutama di fase awal transisi, di mana harga kendaraan listrik masih jadi halangan utama buat kebanyakan konsumen. Insentif bisa jadi pendorong yang ampuh untuk beralih dari kendaraan berbasis BBM.
Buktinya? Lihat saja data tahun 2025. Pasar otomotif nasional secara keseluruhan sebenarnya terkontraksi, turun sekitar 10%. Tapi, penjualan kendaraan listrik justru naik. Itu sinyal jelas bahwa insentif bekerja.
Angkanya cukup menggembirakan. Sepanjang Januari hingga November 2025, distribusi mobil listrik dari pabrik ke dealer (wholesales) mencapai 82.525 unit. Total penjualan kendaraan nasional saat itu 710.084 unit. Artinya, pangsa pasar mobil listrik sudah menyentuh level 11,62%.
Tapi Joshua juga mengingatkan. Momentum ini harus dijaga.
"Tanpa stimulus baru, pasar kendaraan listrik memang berisiko melambat," pungkasnya.
Solusinya bukan kembali ke subsidi yang luas dan boros. Justru, insentif perlu lebih presisi. Misalnya, difokuskan untuk model dengan kandungan lokal tinggi, untuk pembeli pertama, atau untuk armada yang punya intensitas penggunaan tinggi seperti kendaraan operasional perusahaan atau transportasi umum. Dengan cara itu, transisi energi bisa lebih terarah dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Laba Bersih Darya-Varia Naik 5% di 2025, Didorong Pertumbuhan Pendapatan
Rusia Hentikan Ekspor Bahan Bakar Mulai April 2026 untuk Stabilkan Pasar Domestik
RISE Catat Lonjakan Laba 165% di 2025, Didorong Penjualan Apartemen
Analis Prediksi Rupiah Bisa Anjlok ke Rp17.100 per Dolar AS