Ekonom: Konflik Timur Tengah Perkuat Urgensi Insentif Kendaraan Listrik

- Minggu, 29 Maret 2026 | 13:40 WIB
Ekonom: Konflik Timur Tengah Perkuat Urgensi Insentif Kendaraan Listrik

Memang, peran insentif itu besar banget. Terutama di fase awal transisi, di mana harga kendaraan listrik masih jadi halangan utama buat kebanyakan konsumen. Insentif bisa jadi pendorong yang ampuh untuk beralih dari kendaraan berbasis BBM.

Buktinya? Lihat saja data tahun 2025. Pasar otomotif nasional secara keseluruhan sebenarnya terkontraksi, turun sekitar 10%. Tapi, penjualan kendaraan listrik justru naik. Itu sinyal jelas bahwa insentif bekerja.

Angkanya cukup menggembirakan. Sepanjang Januari hingga November 2025, distribusi mobil listrik dari pabrik ke dealer (wholesales) mencapai 82.525 unit. Total penjualan kendaraan nasional saat itu 710.084 unit. Artinya, pangsa pasar mobil listrik sudah menyentuh level 11,62%.

Tapi Joshua juga mengingatkan. Momentum ini harus dijaga.

"Tanpa stimulus baru, pasar kendaraan listrik memang berisiko melambat," pungkasnya.

Solusinya bukan kembali ke subsidi yang luas dan boros. Justru, insentif perlu lebih presisi. Misalnya, difokuskan untuk model dengan kandungan lokal tinggi, untuk pembeli pertama, atau untuk armada yang punya intensitas penggunaan tinggi seperti kendaraan operasional perusahaan atau transportasi umum. Dengan cara itu, transisi energi bisa lebih terarah dan berkelanjutan.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar