Di sisi lain, pemerintah sadar transisi ke ekonomi digital tak bisa dihindari. Namun, mereka sedang merumuskan strategi taktis. Prinsipnya, jika pasar beralih ke daring, seharusnya pelaku usaha lokal yang merajai.
Lalu, apa sih yang bikin produk China bisa semurah itu? Menurut Purbaya, ada dugaan kuat adanya subsidi ekspor dari pemerintah China. Angkanya sekitar 15 persen. Hal ini tentu menciptakan ketimpangan harga yang merugikan produk buatan Indonesia.
Terakhir, ada upaya mencari solusi jangka panjang. Purbaya mengakui pesatnya digitalisasi justru membuka pintu lebar-lebar bagi raksasa teknologi China. Karena itu, penting untuk menghidupkan atau menciptakan kompetitor lokal yang tangguh.
Jadi, wacananya sudah mengudara. Tinggal menunggu langkah konkret berikutnya dari pemerintah. Semua mata tertuju pada bagaimana kebijakan ini nanti dirumuskan tanpa menimbulkan gejolak baru di pasar.
Artikel Terkait
BUMA Catat Rugi Bersih USD128 Juta di 2025, Tunjukkan Pemulihan Operasional
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng