Bapanas Pastikan Stok Pangan Nasional Kuat, Proyeksi Surplus Beras Capai 16 Juta Ton

- Minggu, 29 Maret 2026 | 07:40 WIB
Bapanas Pastikan Stok Pangan Nasional Kuat, Proyeksi Surplus Beras Capai 16 Juta Ton

Kabar baik datang dari Badan Pangan Nasional (Bapanas). Mereka memastikan stok pangan kita dalam kondisi kuat dan aman. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang memang mendorong kemandirian pangan lewat peningkatan produksi dalam negeri. Intinya, kita punya cadangan yang cukup dan bahkan surplus di beberapa komoditas penting. Ini jadi fondasi utama buat jaga stabilitas pasokan ke depan.

Masyarakat diminta untuk tenang. I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menegaskan bahwa kekhawatiran soal ketersediaan pangan tak perlu terjadi. Posisi stok dan produksi saat ini dinilainya sangat memadai.

"Kalau bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir," ujar Ketut dalam keterangan resminya, Minggu (29/3/2026).

"Proyeksi neraca pangan kita menunjukkan posisi stok yang sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton. Saat ini, cadangan pangan di Bulog saja sudah mencapai sekitar 4,22 juta ton," jelasnya.

Angka-angka itu memang impresif. Data per 26 Maret 2026 mencatat, stok beras di Perum Bulog memang berada di level 4,22 juta ton. Tapi bukan cuma beras. Komoditas lain juga terpantau aman. Ada jagung sekitar 155 ribu ton dan minyak goreng sekitar 117 ribu kiloliter. Jumlah-jumlah ini relatif aman untuk memenuhi kebutuhan bulanan.

Di sisi lain, produksi dalam negeri terus menunjukkan tren yang menggembirakan. Musim tanam dan panen yang sedang berlangsung memberi angin segar. Produksi sudah berjalan sejak awal tahun.

"Produksi di bulan Januari sudah ada, Februari juga. Maret sedang berproduksi, dan April nanti diprediksi bisa panen raya," kata Ketut dengan nada optimis.

"Bisa sampai 5 juta ton di bulan April ini. Ini angka produksi yang sangat tinggi," tambahnya.

Optimisme itu punya dasar data yang solid. Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, misalnya, menyebut total ketersediaan beras bakal tembus lebih dari 47 juta ton. Sementara kebutuhan sepanjang tahun diperkirakan cuma sekitar 31 juta ton. Artinya, surplus yang dihasilkan cukup signifikan.

Komoditas lain juga tak kalah bagus. Jagung diproyeksikan punya stok akhir sekitar 4,99 juta ton. Untuk protein hewani, stok daging ayam ras sekitar 1,7 juta ton dan telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Gula konsumsi pun diperkirakan memiliki stok akhir 1,33 juta ton. Semua angka ini, menurut Bapanas, adalah cerminan nyata dari kuatnya produksi dalam negeri.

Ketut menambahkan poin penting. Sebagian besar komoditas strategis kita memang ditopang dari dalam negeri.

"Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya," tuturnya.

Namun begitu, pemerintah mengaku tidak boleh lengah. Prinsip kewaspadaan tetap dipegang, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memasuki musim kemarau.

"Kita optimistis ketahanan pangan terjaga," kata Ketut, "karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan. Mulai dari percepatan tanam sampai bantuan sarana produksi, semua untuk jaga produksi tetap optimal."

Di kesempatan terpisah, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, juga menyuarakan hal serupa. Baginya, kunci utamanya ada di penguatan produksi.

"Produksi kita meningkat. Panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen. Alhasil, stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional," tegas Amran.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan.

"Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir," ujarnya.

Jadi, dengan cadangan pemerintah yang kuat, stok beras yang terjaga, dan proyeksi produksi yang positif sepanjang tahun, pemerintah merasa yakin. Ketahanan pangan nasional dipastikan tetap terjaga, sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang tanpa dibayangi kekurangan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar