Namun begitu, ada sedikit celah diplomasi. Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat waktu rencana serangan terhadap infrastruktur Iran sampai 6 April. Tujuannya memberi ruang untuk bernegosiasi.
"Pembicaraan dengan Teheran berlangsung sangat baik," ujar Trump.
Dia juga menyebutkan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz pekan ini sebagai bentuk itikad baik. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menambahkan bahwa program asuransi untuk mendukung pelayaran di selat itu akan segera dimulai.
Meski ada sinyal diplomatik, analis di Sucden Financial punya pandangan yang lebih berhati-hati. Menurut mereka, konflik ini masih jauh dari kata selesai. Serangan masih berlanjut dan belum ada kemajuan berarti soal pembukaan kembali Selat Hormuz. Alhasil, premi risiko di pasar energi tetap menggantung tinggi.
Sejak konflik pecah, kenaikan harga minyak memang luar biasa. Brent telah melonjak sekitar 50 persen, dan WTI naik sekitar 40 persen. Ini semua berawal saat Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz jalur sempit yang jadi urat nadi bagi seperlima pasokan energi dunia.
Perlu diingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya berada di tangan investor.
Artikel Terkait
Wall Street Anjlok, Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal Trump Tekan Pasar
MORA Siapkan Buyback Rp1,02 Triliun Jelang Merger dengan EMR
Obligasi dan Sukuk RATU Tembus Oversubscription 6,8 Kali Lipat
ENVY Rencanakan Akuisisi 99% Saham Delapan Media Komunikasi