Harga minyak sempat terjun bebas di awal sesi Rabu kemarin. Tapi, penurunan itu akhirnya dipangkas. Pada penutupan perdagangan, minyak global hanya turun sekitar 2 persen. Sentimen pasar bergantung pada satu hal: respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Amerika Serikat.
Kontrak berjangka Brent, patokan minyak dunia, akhirnya merosot 2,2% ke level USD102,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), juga terkoreksi dengan persentase yang sama, ke posisi USD90,32. Padahal, dalam perjalanan sesinya, Brent sempat anjlok hampir 7 persen. Fluktuasi yang cukup gila.
Lalu, apa yang terjadi dengan proposal AS itu? Menurut seorang pejabat senior Iran yang berbicara kepada Reuters, Teheran masih meninjau tawaran Washington. Respons awal mereka memang terkesan negatif, tapi itu bukan penolakan mutlak. Artinya, pintu dialog masih terbuka, meski sumpeg.
Di sisi lain, Gedung Putih tak mau kalah bersuara.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Presiden Donald Trump akan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Syaratnya, kata dia, Iran harus mengakui bahwa mereka telah "dikalahkan secara militer".
Di permukaan, para pejabat Iran memang mencaci maki kemungkinan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump. Namun, ada sesuatu yang menarik. Keterlambatan mereka menyampaikan jawaban resmi kepada Pakistan yang membawa proposal 15 poin AS menunjukkan bahwa di balik layar, sebagian elite di Teheran masih memikirkannya. Masih ada pertimbangan.
Analis Ritterbusch and Associates mencatat, pergerakan harga minyak ke depan akan tetap liar, mengikuti setiap detak perkembangan perang ini. Gedung Putih berusaha menonjolkan kemajuan pembicaraan, sementara Iran membantah ada kemajuan sama sekali. Tarik-ulur seperti inilah yang membatasi potensi penurunan harga lebih dalam. Volatilitasnya sendiri sudah melonjak. Tingkat volatilitas historis kedua acuan minyak mentah bahkan mencapai level tertinggi sejak April 2022.
Artikel Terkait
Petrosea dan Konsorsium Amankan Kontrak Rp989 Miliar untuk Proyek LNG Masela
IHSG Berbalik Merah Usai Dibuka Menguat, Sektor Keuangan dan Industri Jadi Penahan
Victoria Investama Suntik Rp13 Miliar ke Anak Usaha Asuransi lewat Private Placement
Perdagangan Minyak Rp8,45 Triliun dalam 60 Detik Sebelum Trump Umumkan Deeskalasi