Tekanan pada Korea Selatan ternyata bukan cuma dari geopolitik. Ada faktor internal yang turut membebani psikologi pasar. Penunjukan Shin Hyun-seong sebagai Gubernur baru bank sentral setempat rupanya bikin investor khawatir. Beberapa pernyataan Shin di masa lalu dinilai terlalu 'hawkish', terutama soal inflasi dan kredit. Banyak yang kini berharap atau justru cemas Bank of Korea akan segera menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, harga minyak yang tetap tinggi di perdagangan Asia menambah daftar kekhawatiran. Lonjakan harga energi ini berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi lagi, yang pada akhirnya bisa memaksa bank-bank sentral untuk bersikap lebih agresif.
Pelemahan juga terjadi di pasar lain. Hong Kong, diwakili indeks Hang Seng, merosot 3,1 persen. Bursa China, CSI 300 dan Shanghai Composite, masing-masing melemah sekitar 2 persen. Australia dan Singapura juga ikut terimbas, dengan S&P/ASX 200 turun 0,7 persen dan Straits Times Index melemah 1,8 persen. Sementara itu, kontrak berjangka Nifty 50 India tercatat turun tipis 0,3 persen.
Semua ini, sebenarnya, cerminan dari tren buruk yang sudah lebih dulu terjadi di Wall Street. Pasar saham AS sendiri telah mencatatkan penurunan selama empat pekan berturut-turut, seiring minimnya sinyal perdamaian dari kancah konflik. Dan pada perdagangan awal hari ini, kontrak berjangka S&P 500 masih terpantau turun 0,2 persen. Suasana tegang tampaknya masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
IEA Peringatkan Kerusakan Aset Energi di Timur Tengah Picu Krisis Global
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram Pasca-Lebaran, Galeri24 dan UBS Stabil