Harga Minyak Bertahan Tinggi, Selat Hormuz Tetap Tertutup Picu Kekhawatiran Pasar

- Minggu, 15 Maret 2026 | 09:15 WIB
Harga Minyak Bertahan Tinggi, Selat Hormuz Tetap Tertutup Picu Kekhawatiran Pasar

Analis IG Tony Sycamore mencatat, kelegaan pasar yang sempat muncul akibat pelepasan cadangan itu dengan cepat sirna. Penyebabnya sederhana: risiko geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dengan cepat.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, bersikukuh dengan posisinya. Iran akan terus berperang dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel. Bahkan, situasi keamanan di lapangan semakin panas. Dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dilaporkan diserang oleh kapal Iran yang membawa bahan peledak, menurut pejabat keamanan Irak pada Kamis.

Seorang pejabat Irak yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada media pemerintah bahwa pelabuhan minyak negara itu kini menghentikan operasinya sepenuhnya.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis juga angkat bicara. Ia menyebut AS berpotensi mendapat keuntungan besar dari harga minyak yang melonjak ini. Meski begitu, ia menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir adalah prioritas yang jauh lebih penting.

Volatilitas yang tinggi ini tercermin dari pergerakan harga sehari sebelumnya. Pada Kamis, baik Brent maupun WTI sempat melonjak lebih dari 9 persen dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022.

Melihat ke depan, proyeksi Goldman Sachs yang dirilis Jumat memperkirakan harga minyak Brent rata-rata akan bertahan di atas USD100 per barel sepanjang Maret. Untuk April, mereka memproyeksikan harga sekitar USD85 per barel. Semua ini seiring dengan volatilitas pasar akibat perang, kerusakan infrastruktur, dan gangguan di Selat Hormuz.

Analis senior LSEG, Emril Jamil, melihat Brent cenderung lebih kuat ketimbang WTI. Alasannya, Eropa lebih rentan terhadap risiko keamanan energi. Sementara AS relatif lebih terlindungi berkat produksi minyak domestiknya yang besar.

Ada indikasi kuat bahwa gangguan ini akan berlangsung lama. Menurut sejumlah sumber yang berbicara kepada Reuters, Iran telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di Selat Hormuz. Langkah ini jelas mempersulit, bahkan hampir mustahilkan, upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis itu dalam waktu dekat.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar