Dari sana, perjalanannya cukup mengesankan. Yosaphat berhasil menapaki jenjang karir, mulai dari supervisor, lalu naik menjadi manajer, sebelum akhirnya dipercaya menduduki kursi direksi. Sebelumnya, ia sempat mengumpulkan pengalaman di PT Mega Eltra.
Di sisi lain, latar belakang pendidikannya adalah D3 Teknik Mesin dari Akademi Teknik Mesin Indonesia St. Mikael, Surakarta, yang ia rampungkan pada 1986. Jabatannya tak cuma satu; selain di DRMA, ia juga merangkap sebagai Direktur Utama di dua perusahaan lain: PT Dharma Precision Tools dan PT Saikono Otoparts Indonesia.
Kini, dengan kepemilikan saham sekitar 60,80 juta lembar saham DRMA atau setara 1,29%, nilai portofolionya cukup fantastis. Mengingat harga saham DRMA berkisar di level Rp970 per lembar, total kekayaannya dari saham itu saja ditaksir mencapai Rp59 miliar.
Kepergiannya tentu meninggalkan jejak. Sebuah akhir dari satu babak panjang, sekaligus awal baru baik bagi perusahaan maupun bagi Yosaphat sendiri.
Artikel Terkait
ADRO Siapkan Rp4 Triliun dari Kas Internal untuk Buyback Saham
Wall Street Dibayangi Inflasi dan Gejolak Minyak, Pasar Terbelah
ELPI Bagikan Dividen Rp126 Miliar untuk Tahun Buku 2025
DSSA Setujui Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Rp3.750