Di sisi lain, pelemahan ringgit Malaysia sebesar 0,03 persen terhadap dolar AS memberi angin segar. Bagi pembeli yang memegang mata uang asing, sawit jadi terasa lebih murah. Tapi ceritanya jadi lain kalau kita lihat dari kacamata biodiesel.
Harga minyak mentah dunia justru ambruk lagi di hari yang sama. Pemicunya adalah kabar bahwa Badan Energi Internasional berencana melepas cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah. Ini respons atas kekhawatiran pasokan terganggu gara-gara ketegangan AS-Israel dengan Iran. Nah, turunnya harga minyak mentah bikin daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel ikut menipis.
Di tengah semua itu, data ekspor justru mencatatkan kabar baik. Menurut AmSpec Agri Malaysia, pengapalan produk minyak sawit Malaysia pada 1-10 Maret melesat 45,3 persen dibanding periode sama di bulan Februari. Lembaga survei kargo Intertek Testing Services juga melaporkan kenaikan, meski angkanya sedikit lebih rendah, yaitu 37,9 persen.
Kenaikan harga minyak nabati ini rupanya memicu aksi cepat dari pembeli, khususnya di India. Mereka khawatir pengiriman minyak kedelai dan bunga matahari yang sudah dibeli bakal molor akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu logistik. Alhasil, banyak yang beralih ke pengiriman cepat atau prompt shipments untuk mengamankan stok.
Artikel Terkait
Fitch Ratings Tegaskan Peringkat BBB- untuk PGN, Outlook Stabil
PT Krakatau Steel Bidik Pendapatan Rp 27 Triliun pada 2026 dengan Strategi Transformasi
Petrindo Jaya Kreasi Akhiri Program Buyback Saham Lebih Cepat, Telah Serap 10 Juta Lembar
IHSG Turun 0,69%, Saham UANG dan NETV Melonjak di Atas 24%