"Sekali lagi hari ini, pergerakan rebound harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap peluang untuk kembali masuk ke pasar," katanya menambahkan.
Di sisi lain, kekhawatiran stagflasi belum benar-benar hilang. Laporan ketenagakerjaan Jumat lalu yang lebih lemah dari perkiraan, dikombinasikan dengan ancaman inflasi, berpotensi menjebak Fed dalam dilema. Mereka terjepit antara mandat menjaga stabilitas harga dan menciptakan lapangan kerja penuh.
Meski begitu, pasar keuangan tampaknya masih optimis. Mayoritas memperkirakan bank sentral akan bertahan, tidak mengubah suku bunga acuan setidaknya hingga paruh pertama tahun ini.
Harapan perdamaian di Timur Tengah sendiri sebelumnya sempat meredup. Pilihan Iran, Mojtaba Khamenei, untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi dianggap Trump tidak bisa diterima. Presiden AS itu sebelumnya menyerukan penyerahan tanpa syarat dari Iran.
Di lantai Nasdaq, suasana cukup positif. Sekitar 2.645 saham naik, mengalahkan 2.107 saham yang turun. Rasio penguat terhadap pelemah sekitar 1,26 banding 1.
Secara teknis, S&P 500 mencetak empat rekor tertinggi baru dan sembilan rekor terendah baru dalam 52 minggu. Nasdaq lebih bergejolak, dengan 47 rekor tertinggi baru tapi diimbangi 187 rekor terendah baru.
Aktivitas perdagangan juga terlihat ramai. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 22,41 miliar, melampaui rata-rata 20 hari sebesar 19,99 miliar saham. Ini menunjukkan antusiasme yang masih tinggi, meski di tengah volatilitas.
Artikel Terkait
Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Rupiah Tertekan Global, Pelemahan Masih Lebih Moderat Dibanding Mata Uang Asia Lain
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan