Dolar AS kembali menunjukkan taringnya di awal pekan ini. Pada Senin (9/3/2026), mata uang Amerika itu meroket ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, tepatnya terhadap euro. Pemicunya? Situasi di Timur Tengah yang makin panas, yang bikin investor kalang kabut mencari tempat aman.
Di pasar Asia, dolar langsung melesat. Ia menguat 0,8 persen jadi USD1,1525 per euro posisi terkuat sejak November lalu. Tak cuma itu, terhadap yen Jepang, dolar juga naik hampir 0,4 persen ke 158,48. Sementara itu, mata uang seperti pound sterling, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru justru terpuruk, masing-masing anjlok lebih dari 0,6 persen.
Semua ini berjalan beriringan dengan lonjakan harga minyak yang tembus di atas USD100 per barel dan pelemahan saham global. Rasanya seperti deja vu yang menegangkan.
“Minyak tetap jadi saluran utama yang memengaruhi ekspektasi inflasi, suku bunga, dan tentu saja pasar mata uang. Kebangkitan dolar kali ini benar-benar mengingatkan kita pada krisis energi tahun 2022,” ujar Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY.
Bob punya alasan untuk khawatir. Dolar baru saja mencatat kenaikan mingguan paling tajam dalam 15 bulan, seolah menjadi ‘safe haven’ atau pelabuhan aman yang paling dipercaya investor. Ironisnya, emas justru melemah karena aksi jual besar-besaran terhadap aset-aset yang sebelumnya melambung tinggi.
Di sisi lain, dinamika politik di Teheran makin mengeraskan situasi. Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, sang Pemimpin Tertinggi. Langkah ini menegaskan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh, hanya seminggu setelah pertempuran dengan AS dan Israel pecah.
Konflik yang berkepanjangan ini sudah berimbas serius pada pasokan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia terhambat. Penyebabnya? Teheran menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz jalur vital antara Iran dan Oman dan tak segan menyerang infrastruktur energi di sekitarnya.
Kekhawatiran terbesar datang dari pernyataan Menteri Energi Qatar. Ia memperkirakan semua produsen energi di Teluk akan menghentikan ekspor dalam hitungan minggu.
Jika itu benar-benar terjadi, harganya bisa sangat mahal. Langkah tersebut berpotensi mendorong harga minyak melambung hingga USD150 per barel.
Jadi, situasinya masih sangat fluid. Investor menahan napas, menunggu perkembangan berikutnya sambil berusaha melindungi portofolio mereka di tengah gejolak yang entah kapan berakhir.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%