Yang menarik, cadangan dan sumber daya mereka jauh lebih besar dari angka produksi tahunan. Yudicia menyebut, selain cadangan terbukti 2,5 miliar ton, sumber daya (resource) yang dimiliki mencapai 6,8 miliar ton. Semua itu bersumber dari tiga lokasi: KPC, Arutmin, dan juga tambang Pendopo.
Namun begitu, BUMI rupanya tidak hanya berpangku tangan pada batu bara. Perusahaan mulai merambah diversifikasi bisnis untuk mengantisipasi gejolak pasar. Mereka sudah memegang saham di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan mulai menggarap komoditas mineral lain, seperti emas, perak, dan bauksit.
Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Hingga sembilan bulan pertama 2025, BUMI mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 12 persen. Laba kotor juga naik 7 persen. Memang, laba bersihnya turun cukup signifikan, 56 persen. Tapi penurunan ini, kata perusahaan, lebih karena ada penyesuaian transaksi non-tunai pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
“Secara full year, kalau dilihat dari 2024 versus 9 bulan 2025, kita masih on-track untuk growth dari batu baranya ini dari pendapatan selama full year 2025,”
tutup Yudicia optimistis.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
MNC Tourism Pacu Pengembangan KEK Lido City Seluas 3.000 Hektare
Pemerintah Diimbai Siapkan Ruang Fiskal Lebih Besar Antisipasi Dampak Krisis Global