Lalu, apa yang memicu perubahan suasana hati pasar ini? Ternyata, sinyal dari Wall Street semalam punya pengaruh besar. Bursa AS menguat setelah ada kabar yang sedikit meredakan ketegangan. The New York Times melaporkan bahwa aparat intelijen Iran dikabarkan telah menghubungi CIA, membuka peluang dialog. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump berjanji menjaga stabilitas pasar minyak dengan mengawal kapal tanker di Selat Hormuz dan menyiapkan skema asuransi.
Kabar-kabar itu cukup untuk memberi kelegaan sesaat. Investor pun kembali berani, memborong kembali aset-aset berisiko, terutama saham teknologi yang sebelumnya dijual. Nvidia naik 2,3 persen, Amazon bertambah 3,7 persen, dan Applied Digital bahkan melonjak 9,3 persen.
Namun begitu, di balik euforia hari ini, ada keraguan yang masih menggantung. Sejumlah pejabat AS disebut masih meragukan kesiapan kedua belah pihak untuk benar-benar meredakan ketegangan dalam waktu dekat. Richard Bernstein, CEO Richard Bernstein Advisors, mengingatkan bahwa prospek perang yang bisa memicu inflasi tambahan tetap menjadi ancaman serius dan sumber volatilitas ke depan.
Pemulihan hari ini terasa luas. Selain Korsel dan Jepang, Shanghai Composite naik 0,50 persen, Hang Seng Hong Kong tumbuh 1,30 persen. Pasar Australia dan Singapura juga ikut menguat, meski lebih moderat. Tampaknya, untuk sementara, pasar memilih untuk bernapas lega. Tapi semua masih menunggu kejelasan lebih lanjut: berapa lama konflik ini akan berlangsung, dan apa dampak sesungguhnya bagi pertumbuhan ekonomi serta harga-harga global.
Artikel Terkait
IHSG Bangkit 1,80% Usai Anjlok, Analis Ingatkan Masih Technical Rebound
IHSG Melonjak 2,14% di Awal Perdagangan, Seluruh Sektor Berbalik Hijau
Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan Energi Aman Menjelang Lebaran 2026
Harga Emas Bangkit Lebih dari 1% Didorong Ketegangan Timur Tengah dan Pelemahan Dolar