Saham-saham di sektor pariwisata, yang biasanya sensitif sama harga minyak, geraknya beragam. American Airlines naik 1,2 persen, sementara Norwegian Cruise cuma diam di tempat. Carnival dan Delta malah terperosok, masing-masing turun 1,2 dan 0,8 persen.
Yang lebih tertekan adalah saham-saham energi. ConocoPhillips dan Cheniere Energy anjlok, turun 2,8 dan 1,5 persen. Sektor Energi di S&P 500 sendiri jatuh 1,8 persen, jadi yang terburuk hari itu. Wajar sih, mengingat beberapa negara Timur Tengah sudah menghentikan sementara produksi minyak dan gas mereka. Ditambah lagi, AS disebut-sebut berupaya memperluas kampanye militernya ke pedalaman Iran.
Nah, soal pergerakan indeks utama, begini rinciannya per pukul 09:56 pagi waktu setempat: Dow Jones Industrial Average melemah 33,53 poin (0,07%) ke level 48.467,74. S&P 500 naik tipis 8,59 poin (0,12%) ke 6.825,22. Sedangkan Nasdaq Composite melesat cukup signifikan, naik 130,06 poin (0,58%) menjadi 22.646,75.
Perubahan ekspektasi investor juga patut dicatat. Mereka sekarang memprediksi penurunan suku bunga 25 basis poin bakal mundur dari Juli ke September. Alasannya? Kekhawatiran bakal membengkaknya biaya energi dan tarif AS yang bisa memicu inflasi.
Secara pencapaian, S&P 500 sepanjang 52 minggu terakhir telah mencetak enam rekor tertinggi baru dan dua rekor terendah baru. Nasdaq lebih fluktuatif lagi, dengan 34 rekor tertinggi baru dan 44 rekor terendah baru. Angka-angka itu menggambarkan betapa tidak pastinya pasar dalam setahun terakhir.
Artikel Terkait
Saham AS Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Upaya Diplomasi Iran
Wall Street Bergoyang di Tengah Ketegangan Iran dan Sinyal Diplomatik Samar
Saham AS Bergejolak Imbas Ketegangan Iran dan Janji Stabilisasi Energi
Kontak Rahasia Iran ke CIA dan Janji Trump Pengaruhi Pasar Saham AS