“Pandangan dasar kami adalah kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan untuk menghentikan perang dalam satu hingga dua pekan, atau AS memutuskan melakukan de-eskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal serta nuklir Iran dalam periode yang sama,” ujar analis Citi tersebut.
Menariknya, di tengah gejolak ini, OPEC justru membuat keputusan lain. Pada hari Minggu, mereka menyepakati kenaikan produksi minyak untuk bulan April nanti, meski hanya sekitar 206.000 barel per hari. Tapi apakah ini cukup?
Helima Croft dari RBC Capital punya pandangan menarik. Menurutnya, hampir semua produsen OPEC saat ini sudah beroperasi mendekati kapasitas penuh. Hanya Arab Saudi yang masih punya ruang lebih. “Pemanfaatan kapasitas cadangan akan sangat terbatas jika jalur perairan penting menjadi tidak dapat beroperasi,” tegasnya. Intinya, jika Selat Hormuz macet, stok cadangan yang tersisa pun sangat tipis.
Risiko terhadap pelayaran komersial benar-benar melonjak dalam sehari terakhir. Data pelayaran di hari Minggu menunjukkan lebih dari 200 kapal termasuk tanker minyak dan gas terpaksa menjatuhkan jangkar di sekitar selat dan perairan sekitarnya, menunggu situasi reda.
Menyikapi hal ini, Fatih Birol, Direktur Badan Energi Internasional (IEA), menyatakan lembaganya sedang aktif memantau perkembangan. Mereka terus berkomunikasi dengan produsen utama di kawasan dan negara-negara anggotanya. IEA sendiri punya peran krusial: mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) dari negara-negara maju jika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Sementara itu, analis Goldman Sachs mencoba melihat dari sisi persediaan. Mereka mencatat, total stok minyak global yang terlihat saat ini mencapai 7,827 juta barel. Angka itu sebenarnya mendekati level historisnya jika dihitung setara dengan 74 hari permintaan global.
“Pasar minyak dapat menarik persediaan, memanfaatkan kapasitas cadangan setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dan berpotensi memperoleh dukungan dari pelepasan cadangan strategis global,” tulis mereka. Jadi, masih ada sedikit ruang untuk bernapas, tapi semuanya bergantung pada kapan konflik ini mereda dan jalur pelayaran vital itu kembali aman.
Artikel Terkait
Impor Indonesia Tembus US$21,2 Miliar di Januari 2026, Naik 18,21 Persen
Harga Emas Pegadaian Melonjak Rp38-44 Ribu per Gram Imbas Ketegangan AS-Israel-Iran
IHSG Terperosok ke Zona Merah Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah
GoTo Beri Klarifikasi Soal Harga Saham di Sidang Korupsi Chromebook