Yvette Schmitter, CEO perusahaan konsultan IT Fusion Collective, mengungkapkan detailnya. Menurutnya, Nvidia menghasilkan uang tunai hingga USD35 miliar di kuartal keempat. Tapi, imbal hasil yang diberikan hanya 12 persen jauh turun dari 52 persen di periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini terjadi bersamaan dengan klaim Nvidia bahwa chip Ampere mereka laris terjual habis, yang seharusnya jadi sinyal positif untuk permintaan.
Akibatnya, saham Nvidia anjlok 5,5 persen di penutupan. Efek berantainya terasa. Raksasa chip lain seperti Broadcom dan ASML ikut terseret ke zona merah.
Keith Lerner, kepala investasi di Truist, mencoba membaca situasi ini. "Pasar bukan hanya tentang kabar baik atau buruk, tetapi tentang bagaimana hasil dibandingkan dengan ekspektasi. Nvidia masih naik lebih dari 1.400 persen dari titik terendah Oktober 2022, jadi standar untuk kejutan positif tetap tinggi," ujarnya.
Ia juga melihat adanya pergerakan rotasi. "Sebaliknya, saham-saham perangkat lunak pulih setelah kinerja yang jauh di bawah ekspektasi, di mana ekspektasi menjadi sangat rendah. Akibatnya, sebagian dari pergerakan hari ini mencerminkan rotasi sederhana," jelas Lerner.
Jadi, di tengah laporan keuangan yang gemilang, pasar justru memilih untuk mengambil untung dan berhati-hati. Sebuah pengingat klasik bahwa di Wall Street, memenuhi ekspektasi seringkali lebih sulit daripada sekadar mencetak laba.
Artikel Terkait
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo
Rupiah Melemah Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Inflasi AS
MCOL Dirikan Anak Usaha Rp18,75 Miliar untuk Garap Bisnis Data dan TI