Harga minyak dunia anjlok lagi, turun sekitar satu persen pada penutupan pasar Selasa kemarin. Sentimen pasar langsung berubah setelah Iran dengan lantang menyatakan kesiapannya untuk melakukan apa saja demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Padahal, perundingan nuklir penting antara kedua negara itu baru akan digelar akhir pekan ini.
Angkanya cukup jelas: kontrak berjangka Brent merosot ke level USD70,77 per barel. Sementara WTI, patokan minyak AS, ikut terseret ke USD65,63. Keduanya sama-sama kehilangan satu persen.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Menurut Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, putaran ketiga perundingan nuklir Iran-AS akan berlangsung Kamis di Jenewa. Ini jadi momen krusial. Washington selama ini mendesak Teheran menghentikan program nuklirnya, sementara Iran membantah keras tuduhan sedang membuat senjata atom.
Nah, di tengah situasi genting itu, pernyataan seorang Wakil Menteri Luar Negeri Iran pada Selasa lalu benar-benar menyita perhatian. Dikutip dari Reuters, dia bilang Teheran siap mengambil "langkah apa pun yang diperlukan" untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kalimat itu sendiri sudah cukup untuk menggoyang pasar.
Di sisi lain, analis dari bank Swiss UBS punya pandangan. Mereka memperkirakan harga minyak akan mengalami penurunan moderat dalam beberapa pekan ke depan. Tapi, prediksi itu punya satu catatan besar: selama ketegangan di Timur Tengah tidak meledak dan mengganggu pasokan minyak global.
"Harga minyak mentah AS saat ini mengandung premi risiko geopolitik sekitar USD3-USD4 per barel," ujar Direktur Departemen Sumber Daya Mineral North Dakota, negara bagian penghasil minyak terbesar ketiga di AS. Pernyataannya itu disampaikan Senin lalu.
Para eksekutif energi juga berpendapat, industri ini butuh harga bertahan di level USD70 per barel agar produksi bisa terus tumbuh. Jadi, pelemahan harga kemarin jelas jadi berita buruk bagi mereka.
Artikel Terkait
Samindo Resources Pacu Target Overburden Removal ke 34,5 Juta BCM pada 2026
InJourney Airports Borong 32 Penghargaan Kepuasan Penumpang ACI 2025
Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Euforia Teknologi AI
RLCO Bentuk Anak Usaha Baru untuk Garap Bisnis Protein Laut