Maros – Hujan deras selama beberapa hari berturut-turut telah mengubah sawah-sawah di Desa Bontolempangan, Kabupaten Maros, menjadi hamparan air yang luas. Ratusan hektare lahan, termasuk 183 hektare tanaman padi yang siap panen, kini terendam. Gagal panen pun mengancam, dan para petani mendesak satu hal: normalisasi sungai harus segera dilakukan.
Kondisinya memang memprihatinkan. Dua dusun, Tanggaparang dan Mangemba, dilaporkan menjadi wilayah yang paling parah terkena luapan. Air tak hanya merusak tanaman, tapi juga memutus akses jalan, mengisolasi warga sejenak dari aktivitas ekonomi.
Lantas, apa akar masalahnya?
Menurut Kepala Desa Bontolempangan, Muhammad Arif, penyebab utamanya adalah penyempitan dan pendangkalan alur sungai sepanjang sekitar dua kilometer. Aliran air dari hulu, khususnya dari Kecamatan Balocci di Kabupaten Pangkep, tak lagi tertampung dengan baik.
“Kami sangat membutuhkan pengerukan sungai karena terjadi penyempitan yang signifikan setiap tahunnya,” ujar Arif, Selasa (24/2/2026).
“Sementara di wilayah Pangkep dilakukan pengerukan, dampaknya aliran air saat hujan justru tertuju ke desa kami.”
Arif mengaku usulan normalisasi ini sudah berkali-kali diajukan lewat forum Musrenbang. Namun, hingga kini, belum ada realisasi konkret dari pihak berwenang. Padahal, masalahnya berulang setiap tahun dengan frekuensi yang mengkhawatirkan bisa 7 sampai 10 kali banjir dalam setahun, dengan ketinggian air seringkali lebih dari satu meter.
Dampaknya jelas sangat berat. Sekitar 90 persen warga di sini hidup dari bertani. Setiap kali banjir datang, bukan cuma tanaman yang rusak, tapi juga harapan untuk sesuap nasi ikut terkikis. Mereka butuh kepastian.
Di sisi lain, infrastruktur yang ada dinilai tak lagi memadai menghadapi curah hujan ekstrem. Normalisasi sungai dianggap sebagai solusi paling mendesak untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan. Bagi warga Bontolempangan, ini bukan sekadar proyek fisik, tapi soal menyelamatkan mata pencaharian dan ketahanan pangan mereka.
Tanpa intervensi serius, ancaman banjir dan gagal panen akan terus menjadi lingkaran setia yang mengintai setiap musim hujan.
Artikel Terkait
PSG Juara Liga Champions 2025/2026 Usai Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti
Maruarar Sirait Resmi Pimpin PIKI, Targetkan Peran Intelektual Kristen dalam Pembangunan Bangsa
Bali Serap Hampir Setengah dari 15,39 Juta Kunjungan Wisman, Menpar Dorong Investasi Merata ke Daerah Lain
Empat Anggota Satu Keluarga Tewas di Tenda Saat Berkemah di Temanggung, Diduga Keracunan Gas Karbon Monoksida