Maros – Hujan deras selama beberapa hari berturut-turut telah mengubah sawah-sawah di Desa Bontolempangan, Kabupaten Maros, menjadi hamparan air yang luas. Ratusan hektare lahan, termasuk 183 hektare tanaman padi yang siap panen, kini terendam. Gagal panen pun mengancam, dan para petani mendesak satu hal: normalisasi sungai harus segera dilakukan.
Kondisinya memang memprihatinkan. Dua dusun, Tanggaparang dan Mangemba, dilaporkan menjadi wilayah yang paling parah terkena luapan. Air tak hanya merusak tanaman, tapi juga memutus akses jalan, mengisolasi warga sejenak dari aktivitas ekonomi.
Lantas, apa akar masalahnya?
Menurut Kepala Desa Bontolempangan, Muhammad Arif, penyebab utamanya adalah penyempitan dan pendangkalan alur sungai sepanjang sekitar dua kilometer. Aliran air dari hulu, khususnya dari Kecamatan Balocci di Kabupaten Pangkep, tak lagi tertampung dengan baik.
Artikel Terkait
Contoh Kultum Ramadan Soroti Pentingnya Istiqamah dan Ibadah Berdampak
Fakfak Percepat Program Pala Unggul Kapala Emas Lewat Kolaborasi Yayasan dan Dinas Perkebunan
Pakar Pertanyakan Kebutuhan dan Efektivitas Pengadaan 105.000 Pick Up untuk Koperasi Desa
Debt Collector Diduga Otak Penusukan Advokat Ditangkap di Semarang