Rencana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendatangkan 105.000 mobil niaga dari India benar-benar mengejutkan. Tiba-tiba saja. Padahal, kita punya program prioritas nasional yang justru ingin menguatkan ekonomi domestik. Menggunakan dana APBN untuk impor skala besar seperti ini, rasanya perlu dikoreksi ulang.
Presiden Prabowo punya visi jelas lewat program MBG dan KDPM. Tujuannya tak lain adalah membangkitkan perekonomian desa. Dengan permintaan pangan yang meningkat, desa-desa diharapkan bisa memenuhinya. Tugas Kementerian Pertanian di hulu adalah mendongkrak produktivitas. Logikanya sederhana: jika sirkulasi ekonomi desa bergerak, ketergantungan pada impor pangan akan berkurang.
Nah, arsitektur ekonomi semacam ini seharusnya dipahami oleh semua jajaran, termasuk di BUMN. Rencana Agrinas itu, jujur saja, seperti belum sepenuhnya menangkap cara berpikir atasan mereka.
Mari kita lihat datanya. Sejak 2011, pertumbuhan industri manufaktur kita selalu tertinggal di bawah PDB. Padahal, sektor inilah yang seharusnya jadi andalan untuk mengolah SDA dan menyerap tenaga kerja terdidik. Kenyataannya? Lebih dari satu juta sarjana menganggur. Miris.
Di sisi lain, BUMN mestinya ikut memikirkan persoalan ini. Bukannya membantu, rencana impor 105.000 unit mobil itu justru berpotensi merugikan perekonomian nasional. Hitungan Celios yang ramai diberitakan media menyebutkan kerugiannya bisa sangat besar.
Potensinya macam-macam: PDB tergerus hampir Rp 39,3 triliun, pendapatan masyarakat menyusut Rp 39 triliun, surplus industri otomotif terpangkas Rp 21,67 triliun. Belum lagi pendapatan tenaga kerja di seluruh rantai pasok yang bisa anjlok Rp 17,39 triliun, dan penerimaan pajak bersih yang tertekan ratusan miliar rupiah.
Artikel Terkait
Debt Collector Diduga Otak Penusukan Advokat Ditangkap di Semarang
Siswa SD dan Ayahnya Selamat Usai Terseret Banjir Lahar di Sungai Regoyo
Surabaya Gelar Gerakan GEMILANG, 2.776 TK Kunjungi SD untuk Permudah Transisi Murid
Tito Karnavian Tinjau Rehabilitasi Pascabencana dan Serukan Hunian Layak bagi Pengungsi Aceh