MURIANETWORK.COM - Saham PT Hillcon Tbk (HILL) tercatat sebagai salah satu top loser di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 19 Februari 2026, dengan penurunan harga mencapai 14,71 persen ke level Rp58 per saham. Perusahaan yang beroperasi sebagai emiten energi ini memiliki fokus bisnis utama pada jasa pertambangan dan konstruksi melalui sejumlah anak usahanya. Artikel ini mengulas profil bisnis dan struktur kepemilikan saham emiten tersebut.
Profil dan Perjalanan Bisnis Hillcon
Berdiri sejak 1995 dengan nama awal PT Hillconjaya Sakti, perusahaan awalnya bergerak sebagai kontraktor sipil dan pertambangan. Transformasi signifikan terjadi setelah akuisisi oleh Hillcon Investama pada 2008, yang diikuti perubahan nama menjadi PT Hillcon tiga tahun kemudian. Baru pada 2013, perseroan mulai menggarap bisnis intinya di sektor pertambangan nikel.
Ekspansi terus berlanjut. Hingga 2020, lebih dari 244 proyek telah diselesaikan, termasuk pengerjaan di proyek batu bara Sebuku Tanjung. Dalam perkembangannya, perseroan membentuk empat anak usaha untuk mendukung operasi, meski tiga di antaranya masih dalam tahap pengerjaan. Keempat anak usaha tersebut adalah Hillconjaya Sakti (kontraktor), Hillcon Mining Indonesia (pertambangan), Hillcon Jaya Land (properti), dan Hillcon Industrial Assets (alat berat).
Ruang Lingkup Operasi dan Proyek Terkini
Layanan jasa pertambangan yang ditawarkan Hillcon terbilang komprehensif, mencakup perencanaan penambangan, pembukaan lahan, pengupasan tanah penutup, hingga pemuatan material ke tongkang. Dalam beberapa tahun terakhir, portofolio proyeknya bertambah dengan tiga proyek nikel baru di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, serta dua proyek lainnya di Kalimantan Selatan (batu bara) dan Sulawesi Tenggara (nikel).
Struktur Kepemilikan dan Penerima Manfaat Utama
Lantas, siapa yang mengendalikan perusahaan ini? Berdasarkan data kepemilikan hingga akhir Januari 2026, pengendali utama saham HILL adalah PT Hillcon Equity Management dan seorang individu bernama Hersan Qiu.
Secara rinci, komposisi pemegang saham mayoritas adalah sebagai berikut:
Hillcon Equity Management menguasai 6,30 miliar saham atau setara 42,76 persen. Posisi berikutnya dipegang oleh CGS International (20,02 persen), Bukit Persada Indonesia (16,15 persen), dan Trimegah Sekuritas (9,43 persen). Sementara itu, kepemilikan publik tercatat sebesar 11,64 persen.
Hersan Qiu, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama perusahaan, tercatat sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari kepemilikan saham tersebut.
Catatan Penting bagi Investor
Perlu diingat, perseroan melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada 2023 dengan melepas 442 juta saham di harga Rp1.250 per lembar. Hasil dari go public tersebut berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp552,87 miliar.
Namun, kinerja sahamnya belakangan ini cukup menantang. Pada penutupan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, HILL ditutup pada posisi auto-reject bawah di harga Rp58. Tekanan jual yang kuat tercermin dari pelemahan harga yang mencapai 63,98 persen dalam rentang satu bulan terakhir, sebuah kondisi yang patut menjadi pertimbangan tersendiri bagi para pemangku kepentingan.
Artikel Terkait
IHSG Berakhir Merah 0,25% di Tengah Sesi Perdagangan Beragam
OJK Cabut Izin BPR Kamadana di Bali Diduga karena Praktik Fraud
Saham Migas Menguat di BEI, Sentimen Harga Minyak dan Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu
IHSG Menguat 0,33% ke 8.357, Energi dan Bahan Baku Jadi Penggerak