"Dengan demikian, sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut, rencana pengambilalihan atas perseroan oleh Saiko Consultancy Pte Ltd menjadi batal," ungkapnya.
Meski rencana akuisisi utama batal, Leong menyebut pihaknya masih membahas struktur alternatif lainnya. Ia berjanji akan memberikan informasi lebih lanjut jika ada perkembangan baru terkait rencana terhadap perseroan.
Respons Perusahaan dan Prospek Ke Depan
Di tengah gejolak di pasar modal, pihak manajemen SPRE berusaha menenangkan para pemegang saham. Corporate Secretary SPRE, Arienita Noer, menegaskan bahwa operasional perusahaan tetap berjalan normal sesuai rencana bisnis yang telah disusun.
"Perseroan secara umum berfokus pada keberlanjutan operasional dan peningkatan kinerja keuangan," tegas Arienita.
Jika dilihat dari pergerakan historisnya, pelemahan saat ini memang terasa tajam. Namun, patut dicatat bahwa pada periode Juli hingga September 2025, harga saham SPRE bahkan sempat berada di bawah level Rp100. Harga kemudian merangkak naik perlahan sejak Oktober 2025, sebelum akhirnya melesat pada Januari 2026 didorong sentimen akuisisi yang kini justru berbalik arah.
Artikel Terkait
BEI Cabut Suspensi Saham FITT, Saham ASPR Justru Dikenai Suspensi
Harga Emas Antam Naik Rp75 Ribu per Gram, Buyback Melonjak Rp110 Ribu
BEI Naikkan Batas Minimum Free Float Saham Jadi 15 Persen
KPIG Catat Pendapatan Rp2,6 Triliun di 2025, Didorong Lido City dan Sektor Perhotelan