Sejak Oktober tahun lalu, BEI ternyata sudah membuka jalur komunikasi dengan MSCI. Hal ini diungkapkan oleh Pejabat Sementara Dirut BEI, Jeffrey Hendrik. Artinya, langkah ini diambil jauh sebelum lembaga pemeringkat global itu merilis publikasinya tentang indeks saham Indonesia di bulan Januari 2026.
Jeffrey menjelaskan hal tersebut dalam sebuah diskusi di Graha CIMB, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
"Kami sudah lima kali melakukan pertemuan dengan MSCI. Dan di awal Januari sudah ada sesuatu yang kita deliver, yaitu pembagian antara investor tipe korporat dan lain-lain menjadi yang di atas dan di bawah 5 persen," ujarnya.
Dengan kata lain, upaya menjaga iklim investasi dan stabilitas pasar sudah dilakukan BEI sebelum gejolak terjadi. Tapi, dinamika pasar saham memang kerap tak terduga.
Saat MSCI akhirnya merilis publikasinya, BEI sebenarnya sudah melakukan mitigasi. Hanya saja, ada faktor-faktor tak terprediksi yang akhirnya membuat IHSG terimbas parah. Sampai-sampai, bursa terpaksa menghentikan perdagangan untuk sementara.
"Setelah market crash tanggal 29, kami melakukan beberapa mitigasi, tanggal 30 pagi market sudah rebound," kata Jeffrey.
Namun begitu, situasi justru diperumit dengan perubahan struktur di tubuh otoritas pasar modal sendiri.
"Tetapi terjadi perubahan struktur di dalam organisasi pasar modal. Seperti Bapak Ibu tahu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia mengundurkan diri, kemudian disusul dengan beberapa pejabat di OJK," tuturnya.
Kendati demikian, Jeffrey meyakinkan bahwa dinamika bursa kini perlahan mulai normal. Beragam langkah mitigasi dan upaya reformasi integritas pasar terus digenjot. Salah satu kuncinya? Komunikasi intensif yang tak putus dengan MSCI.
Upaya itu berlanjut hingga awal Februari.
"(Pada 2 Februari kami sudah melakukan pertemuan dengan MSCI, dilanjutkan dengan tanggal 5 kami mengirimkan dokumen teknis, kemudian kemarin tanggal 11 Februari kami kembali melakukan pertemuan," papar dia.
Tapi, jangan tanya soal detail hasil pertemuan itu. Jeffrey belum mau membukanya.
"Tentu yang kami lakukan adalah memastikan mekanisme internal kami berjalan, sehingga seluruh operasional dan pengambilan keputusan di Bursa Efek Indonesia tidak terganggu. Dan itu sudah terjadi sampai dengan hari ini," tegasnya.
Pertemuan teranyar kembali digelar pada Rabu, 11 Februari 2026. Dalam presentasinya, BEI menegaskan komitmen melalui tiga rencana aksi yang sudah disiapkan. Ditambah satu inisiatif baru yang mengacu pada standar global. Langkah-langkah ini diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan dan menjaga stabilitas pasar ke depan.
Artikel Terkait
BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar
Analis Revisi Naik Target Harga Saham BTN Usai Kinerja 2025 Lampaui Ekspektasi
Pemerintah Proyeksikan Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Capai Rp60 Triliun pada Awal 2026
Unilever Indonesia Catat Laba Bersih 2025 Melonjak 21,8% Didorong Transformasi Bisnis