Data-data tersebut mencakup penjualan ritel Desember yang stagnan secara tak terduga, penurunan kelompok kontrol PDB sebesar 0,1 persen, hingga jumlah lowongan kerja yang merosot ke level terendah dalam beberapa tahun. Kondisi ini mengisyaratkan permintaan domestis yang mendingin dan tekanan inflasi yang mulai mereda.
Implikasinya, ekspektasi untuk penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini menguat. Situasi ini memberikan landasan fundamental yang lebih kokoh bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil, karena daya tariknya meningkat ketika biaya peluang memegangnya menurun.
Penopang Struktural dan Risiko Geopolitik
Di luar faktor suku bunga, permintaan dari sektor resmi atau bank sentral tetap menjadi penopang struktural utama pasar emas. Bank sentral China, misalnya, tercatat memperpanjang pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari, menegaskan komitmen diversifikasi cadangan devisanya.
Sementara itu, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia terus menciptakan permintaan akan aset safe-haven. Meski ada sinyal kemajuan diplomatik awal, ketegangan antara AS dan Iran dinilai masih berlanjut. Kondisi semacam ini menjaga risiko penurunan harga yang dalam tetap terbatas, karena investor cenderung mempertahankan alokasi emas sebagai proteksi portofolio.
Di sisi komoditas logam mulia lainnya, kontrak berjangka perak tercatat turun lebih dalam, yakni sebesar 2,8 persen pada sesi yang sama.
Artikel Terkait
BUMA Catat Rugi Bersih USD128 Juta di 2025, Tunjukkan Pemulihan Operasional
Pemerintah Pertimbangkan Pajak Tambahan untuk Produk Impor China di E-Commerce
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi