Minat Mobil Listrik China Tinggi di AS, Namun Regulasi dan Tarif Jadi Penghalang Utama

- Minggu, 29 Maret 2026 | 06:45 WIB
Minat Mobil Listrik China Tinggi di AS, Namun Regulasi dan Tarif Jadi Penghalang Utama

Di Amerika Serikat, gairah untuk memiliki mobil listrik murah kian menggebu. Tapi ada satu hal yang mengganjal: mobil listrik asal China, yang banyak dibicarakan karena harganya yang bersaing, justru sulit didapatkan di sana. Regulasi yang ketat menjadi penghalang utamanya.

Sooren Moosavy, salah satu calon pembeli, mengaku sangat tertarik. Baginya, mobil listrik adalah pilihan untuk hidup lebih ramah lingkungan, plus menawarkan kenyamanan berkendara yang berbeda. Beberapa model dari BYD, Geely, atau Zeekr sudah ada dalam daftar incarannya.

“Saya ingin sekali punya kesempatan untuk membeli atau sekadar test drive,” katanya.

Ketertarikan seperti ini punya alasan yang kuat. Selain desainnya yang kerap tampil futuristik dan interior yang mewah, faktor harga memang jadi magnet utama. Di tengah gempuran harga mobil baru di AS yang melambung, tawaran dari China terasa seperti angin segar.

Clint Simone, seorang editor senior di Edmunds, mengiyakan hal itu. “Teknologi yang mereka tawarkan dengan harga segitu sangat mengejutkan,” ujarnya.

Memang, di panggung global, mobil listrik China sudah punya reputasi: fitur lengkap, harga bersaing. Ambil contoh di Eropa, beberapa model dijual di bawah 30 ribu dolar AS, namun sudah dibekali sistem bantuan pengemudi canggih dan hiburan kabin yang menarik.

Namun begitu, ceritanya jadi lain begitu sampai ke Amerika. Pemerintah setempat memberlakukan tarif impor yang sangat tinggi bahkan bisa melampaui 100 persen untuk kendaraan dari China. Di balik kebijakan ini, ada kekhawatiran mendalam soal keamanan data dan tentu saja, perlindungan untuk industri otomotif dalam negeri.

Dulu, Presiden Donald Trump sempat memberi sinyal terbuka. Produsen China dipersilakan masuk, asal mau membangun pabrik lokal dan mempekerjakan tenaga kerja Amerika. Meski ada celah itu, penolakan dari industri dan kalangan politik tetap keras berdentum.

“Selama saya masih bernapas, tidak akan ada kendaraan buatan China yang dijual di Amerika Serikat,” tegas Senator Bernie Moreno, menyuarakan penentangannya.

Menurut sejumlah survei, minat konsumen biasa justru cukup besar. Hampir setengah dari responden menilai mobil China menawarkan nilai yang bagus, dan sekitar 40 persen lainnya mendukung kehadirannya di pasar AS.

Tapi ya, kekhawatiran tetap bercokol. Isu standar keselamatan dan keamanan data pengguna masih jadi tanda tanya besar. Bahkan dari sisi diler, dukungan untuk membawa merek China ke showroom mereka terbilang minim.

Padahal, seperti dikatakan Rich Benoit, kebutuhan dasarnya sederhana. “Banyak orang hanya butuh kendaraan yang efisien, senyap, dan murah.”

Jadi, di satu sisi ada desakan pasar yang nyata, di sisi lain ada tembok regulasi dan politik yang kokoh. Akankah nanti ada jalan tengahnya? Itu yang masih harus ditunggu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar