MURIANETWORK.COM - Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (6 Februari 2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam, melanjutkan sentimen negatif yang dipicu lembaga pemeringkat Moody's yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Aksi jual yang luas terjadi di hampir semua sektor, mencerminkan kehati-hatian investor menyusul perkembangan terbaru ini.
Sentimen Negatif Moody's Tekan Pasar
Langkah Moody's Ratings menjadi katalis utama pelemahan pagi ini. Keputusan untuk mengubah outlook utang Indonesia tersebut, seperti diungkapkan lembaga tersebut, didasari pada evaluasi terhadap lingkungan kebijakan ekonomi ke depan. Perubahan ini mengisyaratkan meningkatnya risiko yang dapat mempengaruhi kredibilitas dan stabilitas fiskal negara dalam jangka menengah.
Moody's menambahkan, jika tren ketidakpastian ini berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus fondasi kebijakan yang telah lama dibangun dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi serta stabilitas makroekonomi Indonesia.
Dampak Langsung pada Perdagangan
Dampaknya terlihat jelas di papan pencatatan. Hingga pukul 09.28 WIB, IHSG tercatat terpangkas 1,15 persen ke level 8.013, setelah sempat dibuka lebih dalam di posisi 7.945. Tekanan jual bersifat luas dan mendalam. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, mayoritas, tepatnya 500 emiten, tercatat melemah. Hanya 134 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 325 lainnya stagnan. Transaksi awal sesi pun cukup aktif dengan nilai mencapai Rp1,017 triliun.
Seluruh Sektor Berada di Zona Merah
Tidak ada sektor yang luput dari koreksi. Sektor Teknologi menjadi yang tertekan paling dalam dengan penurunan rata-rata 3,79 persen, diikuti oleh sektor Barang Baku yang anjlok 3,19 persen, dan sektor Konsumer Non-Primer yang merosot 3,15 persen. Pelemahan ini juga menarik indeks saham-saham unggulan. Indeks LQ45 turun 2,02 persen ke level 812,62, sementara Indeks IDX30 melemah 1,82 persen ke posisi 424,7.
Top Gainers dan Losers di Tengah Badai
Meski mayoritas saham berwarna merah, beberapa emiten tetap menunjukkan daya tahan dengan kenaikan signifikan. PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) memimpin penguatan dengan melonjak 29,17 persen, disusul PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) yang naik 24,85 persen, dan PT Hotel Fitra Internasional Tbk (FITT) yang menguat 24,06 persen.
Di sisi lain, daftar saham yang paling terpukul diisi oleh PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) yang merosot 14,94 persen, PT MD Pictures Tbk (FILM) yang melemah 14,80 persen, dan Pinnacle Persada Investama (XPDV) yang turun 14,55 persen.
Perkembangan ini menandai lanjutan dari ketegangan pasar yang telah berlangsung sejak pekan lalu, di mana aksi jual besar-besaran telah terjadi. Respons pasar terhadap penilaian Moody's menunjukkan sensitivitas tinggi investor terhadap isu stabilitas kebijakan dan prospek ekonomi jangka panjang. Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada langkah-langkah penyeimbang dan komunikasi kebijakan dari otoritas terkait untuk memulihkan kepercayaan.
Artikel Terkait
OJK Targetkan Dana Masuk Pasar Modal Capai Rp250 Triliun pada 2026
IHSG Anjlok 2,83%, Seluruh Sektor Terkena Tekanan Jual
Pemerintah Godok Dua Opsi Skema Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
BCA Sekuritas Prediksi 2026: Dunia di Era Great Reset AI, Dihantui Ketegangan Geopolitik