Menkeu Purbaya Bantah Risiko Downgrade Moodys, Sebut Fundamental Ekonomi Menguat

- Jumat, 06 Februari 2026 | 13:10 WIB
Menkeu Purbaya Bantah Risiko Downgrade Moodys, Sebut Fundamental Ekonomi Menguat

MURIANETWORK.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pandangan lembaga pemeringkat Moody's mengenai kondisi fiskal Indonesia dengan optimisme. Dalam pernyataannya, Menkeu menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional sedang dalam proses pemulihan yang kuat, sehingga penilaian yang mengarah pada risiko penurunan peringkat (downgrade) dinilai kurang berdasar. Pernyataan ini disampaikan usai Sidang Terbuka Satgas Debottlenecking pada Jumat (6 Februari 2026).

Fundamental Ekonomi yang Menguat

Purbaya meyakini bahwa arah kebijakan pemerintah sudah tepat, dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,39 persen pada kuartal IV-2025 sebagai bukti utamanya. Dia melihat momentum ini sebagai awal dari perbaikan yang lebih cepat dan solid. Menurutnya, lembaga pemeringkat internasional perlu melihat perkembangan di Indonesia secara lebih komprehensif dan adil.

"Ya biar aja seperti itu, yang jelas kan ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Kedepan akan membaik juga, lebih bagus lagi, saya pikir, pertumbuhan akan lebih cepat. Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair," ujarnya.

Target Peningkatan Peringkat di Masa Depan

Alih-alih khawatir dengan downgrade, Menkeu justru melihat ruang untuk peningkatan peringkat (upgrade). Targetnya adalah ketika pertumbuhan ekonomi berhasil mencapai level 6 persen atau lebih. Dia menilai rasio defisit Indonesia masih lebih sehat dibandingkan banyak negara lain, sehingga fokus pemerintah adalah terus memperbaiki fundamental ekonomi.

"Alasannya nggak terlalu kuat untuk downgrade. Justru kita harusnya nanti pelan-pelan akan ada prospek upgrade, mungkin setelah akhir tahun ketika ekonomi kita tumbuh 6 persen atau lebih. Jadi saya akan fokus memperbaiki fundamental ekonomi saja," tuturnya.

Komitmen Bayar Utang dan Efisiensi Anggaran

Merespons keraguan pasar soal kemampuan bayar utang, Purbaya bersikap tegas. Dia menyatakan tidak ada alasan untuk khawatir mengenai komitmen Indonesia dalam memenuhi kewajibannya. Menurutnya, kekhawatiran semacam itu hanya bersifat jangka pendek dan timbul dari ketakutan yang tidak perlu.

"Nggak ada alasan ketakutan kita nggak bisa bayar atau kita nggak mau bayar utang. Dua-duanya kita penuhin, jadi harusnya nggak ada masalah. Ini saya pikir hanya yang jangka pendek saja ya. Kalau orang yang penakut ya akan takut," kata Purbaya.

Di sisi lain, dia menyadari kekhawatiran Moody's terhadap beban anggaran dari program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk itu, dia berkomitmen melakukan peninjauan langsung terhadap anggaran di berbagai kementerian dan lembaga guna memastikan efektivitas dan mencegah pemborosan.

"Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif dan efisien. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin Moody’s juga khawatir di situ. Saya sekarang boleh melihat anggaran Kementerian Lembaga yang lain, kata DPR. Saya akan lihat satu-satu," jelasnya.

Menanggapi Isu Keberadaan Danantara

Mengenai perhatian Moody's terhadap kehadiran BPI Danantara, Purbaya memilih untuk tidak berkomentar mendalam. Namun, dia memberikan sinyal positif dengan menyebut bahwa badan tersebut diharapkan dapat mendorong BUMN bertindak lebih gesit seperti sektor swasta, sehingga dampaknya dinilai akan positif setelah berjalan.

"Danantara biarkan Danantara yang menjelaskan. Harusnya sih arahnya bagus. Karena itu BUMN dibuat bertindak seperti private sector. Harusnya sih bagus. Ini masih baru kan, orang baru melihat. Tapi setelah nanti berjalan, saya pikir akan positif dampaknya," pungkasnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar