Begitu tulis Joni Teves, ahli strategi UBS Group AG, dalam catatannya.
Optimisme serupa masih terasa di kalangan bank. Deutsche Bank AG, misalnya, pada Senin (2/2) tetap mempertahankan proyeksinya bahwa emas berpotensi menuju USD 6.000 per ounce.
Nah, ke depan, arah pasar sangat bergantung pada satu hal: sejauh mana investor China memanfaatkan momen koreksi ini untuk beli lagi. Menariknya, akhir pekan lalu, pasar emas terbesar di Shenzhen sudah ramai dipadati pembeli yang memburu perhiasan dan emas batangan, menyambut Tahun Baru Imlek.
Di sisi lain, ada faktor teknis yang perlu diwaspadai. Pasar keuangan China akan libur panjang lebih dari sepekan mulai 16 Februari. Sementara itu, bank-bank milik negara di sana juga mulai memperketat pengawasan investasi emas, berusaha meredam volatilitas.
Menurut Garfield Reynolds, Pemimpin Tim MLIV Asia, penurunan tiga hari terakhir memang koreksi yang tak terelakkan.
Investor juga masih menunggu perkembangan lain. Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan pembicaraan kesepakatan nuklir baru bisa digelar dalam beberapa hari ke depan. Kalau sampai ada terobosan, daya tarik emas sebagai safe-haven bisa berkurang. Dan itu tentu akan menekan harganya lagi.
Jadi, meski sempat terpeleset, pasar logam mulia tampaknya belum kehabisan napas. Volatilitas tinggi masih akan jadi menu sehari-hari, dengan peluang dan risiko berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi