Di tengah pelemahan luas, ada sedikit cahaya. Walmart meroket sekitar 3 persen dan mencatat sejarah sebagai peritel fisik pertama yang valuasi pasarnya menembus angka USD 1 triliun. Pencapaian yang cukup fenomenal.
Meski indeks mayoritas turun, ada fakta menarik di baliknya. Jumlah saham yang naik di S&P 500 ternyata masih lebih banyak daripada yang turun, dengan rasio 1,2 banding 1. Volume perdagangan juga tinggi, mencapai 23,5 miliar saham, jauh di atas rata-rata 20 sesi sebelumnya.
Secara akumulasi sepanjang 2026, pergerakan indeks masih terbatas. S&P 500 hanya naik sekitar 1 persen, sementara Nasdaq hampir datar-datar saja.
Banjir Laporan Laba
Minggu ini memang padat dengan pengumuman kinerja perusahaan. Sekitar seperempat dari konstituen S&P 500 dijadwalkan melaporkan hasilnya. Analis dari LSEG memproyeksikan pertumbuhan laba kuartal keempat bisa mencapai hampir 11 persen, lebih optimis dibanding estimasi awal Januari yang hanya sekitar 9 persen.
Reaksi pasar terhadap laporan laba pun beragam. Pfizer, contohnya, justru turun 3,3 persen meski labanya melampaui ekspektasi. Sebaliknya, Merck naik 2,2 persen setelah merilis laporan keuangannya.
Yang menarik, PepsiCo melonjak 4,9 persen. Kenaikan ini dipicu pengumuman perusahaan yang akan menurunkan harga untuk merek andalannya seperti Lay's dan Doritos. Langkah yang mungkin dianggap pasar akan mendongkrak volume penjualan.
Artikel Terkait
Bareskrim Gerebek Kantor Shinhan Sekuritas, OJK: Jaga Integritas Pasar
IHSG Tergelincir Tipis, Saham PIPA dan MINA Anjlok Lebih dari 14%
IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, Analis Soroti Empat Saham Pilihan
Penerimaan Pajak Januari Melonjak 30%, Purbaya: Sinyal Positif di Awal Tahun