Dengan dukungan pembiayaan dari BRI, dia merintis layanan tambahan. Tanpa meninggalkan BRILink Agen yang sudah jadi tulang punggung, dia membuka cabang laundry yang terintegrasi. Langkah ini tak hanya memperluas bisnisnya, tapi juga menciptakan lapangan kerja.
“Dari BRILink Agen ini, saya tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan, tapi juga kebahagiaan karena bisa melayani masyarakat,” ceritanya dengan nada puas.
“Awalnya dari satu usaha saja, lalu saya melihat kebutuhan laundry di sekitar. Alhamdulillah, pelan-pelan saya bisa membuka empat cabang laundry. Di tempat laundry ini juga ada layanan BRILink Agen, dan sekarang sudah ada 21 orang yang bekerja bersama kami.”
Kisah Abdurrohim ini bukan sekadar cerita sukses individu. Ia menggambarkan bagaimana sebuah titik layanan keuangan bisa bertransformasi menjadi simpul ekonomi lokal yang hidup, bahkan di jantung kota yang serbacepat.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, melihat fenomena ini sebagai sebuah pola. Menurutnya, BRILink Agen telah melampaui fungsi awalnya.
“Kami melihat Agen BRILink bukan hanya sebagai mitra layanan perbankan, tetapi sebagai pelaku usaha mikro yang memiliki potensi untuk tumbuh dan membuka peluang ekonomi di lingkungannya,” tegas Purwakajaya.
Dia menambahkan, perkembangan di kawasan perkotaan membuktikan satu hal: kebutuhan akan layanan keuangan yang mudah dan dekat tetap relevan, betapa pun padatnya aktivitas ekonomi. Ke depan, BRI berkomitmen untuk terus memperkuat peran agen-agen ini, baik di desa maupun kota, sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan yang lebih luas.
Artikel Terkait
Pasar Modal Indonesia di Ujung Tanduk: Ketika Kepercayaan Lebih Berharga daripada Rekor Indeks
Rosan Roeslani Tegaskan Independensi Danantara Meski Bakal Masuk ke Kepemilikan BEI
Danantara Buka Pintu untuk Dana Negara Lain Masuk ke BEI
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% untuk Tarik Investor Global