tambahnya. Ancaman itu nyata dan menggelayut di atas kepala pasar.
Lalu, apa yang sebenarnya memicu Goldman Sachs bertindak? Rupanya, ini berawal dari kekhawatiran MSCI. Lembaga rating global itu mengancam akan menurunkan status pasar modal Indonesia, dari emerging market menjadi frontier market. Bayang-bayang ancaman itu saja sudah cukup membuat kapok. Dana asing pun kabur, dengan nilai fantastis: lebih dari 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 217 triliun menguap dari pasar.
Dalam laporannya, para analis Goldman Sachs termasuk Timothy Moe menulis dengan nada pesimistis.
"Kami memperkirakan penjualan pasif masih berlanjut dan menilai perkembangan ini menjadi beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,"
Begitu bunyi kutipan laporan mereka. Situasinya memang rumit.
Bayangkan, potensi penurunan status pasar ditambah tekanan jual yang makin menjadi. Kombinasi mematikan ini akan menyedot likuiditas, membuat pasar terasa kering. Investor jangka panjang pun kemungkinan akan dipaksa menata ulang portofolio mereka. Tak hanya itu, kondisi seperti ini justru bisa mengundang hedge fund untuk berspekulasi, menambah gejolak yang sudah ada. Pekan depan, bursa kita tampaknya masih harus bergulat dengan badai.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Dorong Dana Pensiun dan Asuransi Masuk ke Saham LQ45
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics