Lalu, bagaimana solusinya?
Menanggapi hal ini, Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan BI DIY, menyebutkan bahwa mereka sudah menyiapkan sejumlah terobosan. Salah satunya berbasis digital.
"Kami juga menawarkan inovasi yang kita sebut dengan Gandeng-Gendong Super Apps," jelas Sri Darmadi.
Aplikasi ini, katanya, dikembangkan untuk mengoptimalkan penghimpunan dana sosial dan investasi seperti ziswaf yang pada akhirnya diharapkan bisa mendongkrak perekonomian Yogyakarta.
Namun begitu, inovasi teknologi saja tidak cukup. Sri Darmadi menekankan bahwa kunci utamanya ada pada kolaborasi lintas sektor. BI DIY, misalnya, aktif menyelenggarakan Yogyakarta Economic Symposium yang mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku usaha.
Forum semacam itu jadi ajang mencari ide-ide segar dan terobosan. "Harapannya nanti di 2026 pun kita masih akan terus bisa melakukan sehingga bisa memetakan atau mengidentifikasi berbagai hal yang penting," pungkasnya.
Jadi, narasinya jelas. Yogyakarta sedang berusaha keluar dari ketergantungan pada anggaran negara. Dengan memanfaatkan dana menganggur di perbankan dan merancang skema pendanaan kreatif, harapannya ekonomi daerah bisa tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan. Tantangannya sekarang adalah menciptakan proyek-proyek yang memang bankable, serta membangun ekosistem kolaborasi yang solid. Semua pihak harus bergerak.
Artikel Terkait
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Program Mudik Gratis Pemerintah Berangkatkan 500 Pemudik dari Jakarta
BEI Tetapkan Libur Perdagangan 5 Hari Berturut-turut Maret 2026 untuk Nyepi dan Idulfitri