Tekanan ini paling bakal kerasa di saham-saham emas kayak ANTM, MDKA, HRTA, ARCI, dan BRMS. Performa mereka kan sangat tergantung sama gerak-gerik harga logam mulia global.
"Aksi ambil untung dan penyesuaian valuasi di saham-saham itu bisa bikin sektor emas jadi pemberat indeks dalam waktu dekat," jelas Hendra.
Tapi nggak semuanya suram. Ada juga rotasi dana yang terlihat ke saham-saham yang sebelumnya tertekan cukup dalam. Beberapa blue chip di sektor konsumsi, contohnya INDF, ICBP, dan UNVR, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan untuk jangka pendek.
"Karakter defensif dan valuasi yang udah murah bikin sektor ini dilirik lagi sama investor. Jadi semacam penyangga portofolio di tengah pasar yang bergejolak," tuturnya.
Perhatian juga tertuju ke sektor perbankan. Beberapa saham besar seperti BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI mulai kedatangan minat beli lagi, menunjukkan ada perlawanan dari sisi permintaan.
Secara fundamental, kata Hendra, kondisi perbankan nasional masih solid. Permodalan dan likuiditasnya kuat. Tekanan harga yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen dan arus dana jangka pendek, bukan karena kinerja bisnis intinya yang memburuk.
Jadi, apa yang harus dilakukan investor di tengah situasi seperti ini? Hendra menyarankan untuk tetap tenang, selektif, dan fokus pada saham berfundamental kuat. Kunci utamanya ada pada komunikasi.
Jika proses transisi kepemimpinan di regulator dan arah kebijakan ke depan bisa dikomunikasikan dengan jelas dan meyakinkan, tekanan psikologis di pasar pelan-pelan akan mereda.
"Koreksi yang terjadi sekarang justru bisa jadi bagian dari proses menuju pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan," pungkas Hendra.
Artikel Terkait
Erajaya Pacu Ekspansi, Bidik Kenaikan Laba 18% dengan Strategi Gaya Hidup dan EV
Trump Tunjuk Kevin Warsh Pimpin Fed, Ekonom Terbelah
Yogya Galang Dana Kreatif, Atasi Rp32 Triliun yang Tidur di Bank
PT Singaraja Butuh Rp2,73 Triliun untuk Genjot Produksi Batu Bara