"Februari itu salah satu dari dua bulan yang rata-rata returnnya negatif. Itu berlaku untuk data sejak 1950, 10 tahun terakhir, bahkan 20 tahun terakhir," jelas Detrick.
Di tengah keriuhan pasar, ada satu berita besar yang mendominasi: pengangkatan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Fed baru. Trump tak ragu memberi pujian tinggi.
"(Warsh) akan dikenang sebagai salah satu Ketua Fed terhebat, mungkin yang terbaik," tulis Trump di Truth Social.
Pilihan Trump ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Warsh memang sudah lama disebut-sebut sebagai kandidat utama, terutama di tengah ketegangan Trump dengan ketua Fed sekarang, Jerome Powell, soal kebijakan suku bunga. Trump kerap menyindir Powell karena dianggap lambat menurunkan suku bunga, bahkan sampai mengancam akan memecatnya. Pemerintahannya bahkan membuka penyelidikan terhadap Powell.
Menariknya, reaksi pasar atas pengumuman ini justru terbilang kalem. Menurut Steve Sosnick, Kepala Strategi di Interactive Brokers, hal itu wajar.
"Pergerakan pasar relatif tenang mengingat besarnya perubahan tersebut. Itu sebagian besar karena Warsh adalah pilihan yang tidak mengejutkan dan seseorang yang sudah dikenal di kalangan Fed," katanya.
Warsh sendiri bukan wajah baru. Dia pernah menjabat sebagai Gubernur Fed dari 2006 hingga 2011, dan sempat kalah dari Powell dalam perebutan kursi ketua pada 2017. Kini, dia bersiap untuk memimpin bank sentral AS di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Artikel Terkait
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar
Pefindo Beri Sinyal Hijau untuk DEWA, Tapi Ada Catatan di Baliknya