Wall Street menutup pekan dengan catatan merah. Tren penurunan itu didorong oleh anjloknya harga logam mulia, plus data inflasi yang ternyata lebih panas dari perkiraan banyak analis.
Indeks S&P 500 melemah 0,4% ke level 6.939,65. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga ikut turun 0,4% menjadi 48.892,47 poin. Yang paling terpukul adalah Nasdaq Composite, indeks yang dipenuhi saham-saham teknologi, yang terjun 0,9% ke posisi 23.461,82.
Gejolak terlihat jelas di pasar komoditas. Setelah sebelumnya meroket, harga emas dan perak justru kolaps. Emas mengalami hari terburuknya dalam beberapa dekade, sedangkan perak ini yang bikin heboh catat penurunan terparah sepanjang sejarah perdagangannya.
Kalau dilihat dari awal tahun, sebenarnya performa pasar saham masih positif. Sepanjang Januari, S&P 500 masih naik 1,4%, Nasdaq 0,9%, dan Dow 1,7%. Tapi bulan pertama 2026 ini benar-benar berdenyut-denyut. Setelah tahun 2025 yang gemilang dengan kenaikan dua digit, investor kini dibuat waswas oleh keputusan perdagangan dan dinamika geopolitik era Trump. Ketidakpastian itulah yang sempat mendorong emas dan perak ke rekor tertinggi, sebelum akhirnya terjun bebas seperti hari Jumat kemarin.
Ryan Detrick dari Carson Group memberi catatan sejarah yang menarik.
"Ketika Januari hanya naik antara 0 sampai 2 persen, catatan sejarah menunjukkan 11 bulan berikutnya pernah lebih rendah. Cuma sekali," ujarnya.
Dia juga mengingatkan bahwa Februari punya reputasi buruk untuk S&P 500.
Artikel Terkait
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar
Pefindo Beri Sinyal Hijau untuk DEWA, Tapi Ada Catatan di Baliknya