Pernyataannya itu dikutip dari Reuters.
Kemampuan calon untuk bekerja tanpa terbebani tekanan politik juga akan jadi penilaian penting. Bagi banyak ekonom, independensi itu adalah fondasi untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi AS.
Di sinilah mungkin ada sedikit ketegangan. Warsh dikenal mendorong perubahan di bank sentral, termasuk keinginannya untuk mengecilkan neraca The Fed. Ini agak bertolak belakang dengan keinginan Trump yang cenderung menghendaki kebijakan moneter yang lebih longgar.
"Warsh memang tercatat lebih menyukai suku bunga rendah," jelas Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management, Sydney.
"Tapi, komprominya adalah dia mau neraca The Fed dikecilkan. Pasar pun bereaksi seolah bertanya-tanya: 'Seperti apa jadinya dunia kalau neraca The Fed menyusut?'"
Reaksi pasar itu nyata. Dolar menguat sekitar 0,5 persen terhadap sejumlah mata uang utama. Sementara itu, terjadi aksi jual di pasar obligasi jangka panjang yang membuat kurva imbal hasil semakin curam. Ini semua mencerminkan asumsi bahwa Warsh cenderung tidak akan menekan imbal hasil dengan program pengeluaran The Fed.
"Pasar sepertinya sedang menyesuaikan diri," kata Kentaro Hatono dari Asset Management One di Tokyo.
"Alih-alih bertaruh pada Rick Rieder yang dianggap akan meratakan kurva, pasar sekarang berasumsi kurva akan semakin miring karena Warsh akan memperketat neraca The Fed."
Artikel Terkait
Guncangan di OJK: Ketua dan Dua Pejabat Tinggi Mundur Usai Gejolak Pasar
Petinggi OJK Mundur, Tanggung Jawab Moral di Balik Gejolak Pasar Modal
Mahendra Siregar Pamit dari Pucuk OJK, Tanggung Jawab Moral Jadi Alasan
Tiga Pucuk Pimpinan OJK Serahkan Surat Pengunduran Diri