Emas Ambruk 5,7%, Euforia Rekor USD5.600 Berakhir Dramatis

- Jumat, 30 Januari 2026 | 07:45 WIB
Emas Ambruk 5,7%, Euforia Rekor USD5.600 Berakhir Dramatis

Harga emas dunia ambruk. Itulah gambaran perdagangan Kamis kemarin, saat logam mulia itu mengalami penurunan intraday terdalam dalam empat bulan terakhir. Padahal, sebelumnya sempat ada euforia dengan rekor baru di angka USD5.600 per troy ons. Apa pasal? Penguatan dolar AS jadi biang keladinya.

Dolar yang menguat itu langsung menekan harga emas spot. Dalam satu hari, pelemahannya sempat mencapai 5,7 persen level terburuk sejak akhir Oktober tahun lalu. Meski akhirnya bisa memulihkan sebagian kerugian, sentimen pasar jelas berubah. Tekanan jual bahkan lebih keras menghantam perak, yang anjlok hingga 8,4 persen di sesi yang sama.

Berdasarkan pantauan di pasar, emas spot akhirnya ditutup di level USD5.370,23, terkoreksi hampir satu persen. Rentang perdagangannya sangat lebar: dari titik terendah harian USD5.097 hingga tertinggi USD5.602. Volatilitas yang luar biasa.

Phil Streible dari Blue Line Futures punya pandangannya. Menurutnya, pelemahan di pasar saham memicu aksi likuidasi berantai.

“Sepertinya kita sudah mencapai puncak euforia,” katanya.

Pernyataan itu seperti menyiratkan bahwa rally emas tahun ini mungkin butuh jeda. Sepanjang 2026, harga emas melesat didorong ketegangan geopolitik dan kekhawatiran soal independensi The Fed. Narasi pelemahan mata uang atau ‘debasement trade’ jadi pendorong utama. Cuma dalam bulan Januari saja, kenaikannya sudah lebih dari 20 persen angka yang bikin banyak analis waspada.

Carsten Menke, analis Julius Baer Group Ltd, mengiyakan. Kondisi pasar yang terlalu panas membuat koreksi jadi hal yang wajar.

“Dengan dominasi arus dana ketimbang fundamental, pemicu kecil saja sudah cukup untuk koreksi,” ujarnya.

Sebelumnya, emas memang ditopang oleh merosotnya kepercayaan terhadap aset AS. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik jadi bahan bakar. Momentum penguatan bahkan makin kencang setelah komentar Presiden Trump yang dianggap meremehkan pelemahan dolar. Itu dibaca sebagai sinyal hijau bagi mata uang yang lebih lemah, meski disertai ancaman tarif dan kritik terhadap The Fed.

Di sisi lain, bank sentral AS sendiri memilih bertahan. Mereka mempertahankan suku bunga, menyoroti ekonomi yang masih tangguh dan pasar tenaga kerja yang mulai stabil. Meski begitu, inflasi yang tinggi dan prospek yang belum pasti tetap diakui.

Lalu ada faktor geopolitik yang tetap panas. Iran baru-baru ini memperingatkan akan merespons dengan cara “yang belum pernah terjadi sebelumnya” menyusul ancaman dari Trump. Uni Eropa juga bersikukuh dengan keputusannya menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris. Situasi seperti ini biasanya mendukung emas, tapi kemarin pasar justru memilih ambil untung.

Indikator teknis juga mengisyaratkan jenuh. Relative strength index (RSI) emas sempat melonjak di atas 90, sementara perak di sekitar 84. Angka di atas 70 saja sudah dianggap overbought. Jadi, wajar kalau kemudian ada aksi jual dan fase koreksi ini terjadi. Pasar sepertinya butuh napas sejenak setelah rally yang begitu ekstrem.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar