Harga emas lagi-lagi bikin heboh. Di tengah sentimen pasar yang beragam, logam kuning ini justru melesat hingga menembus angka psikologis Rp3 juta per gram. Yang menarik, lonjakan harga ini tak menyurutkan minat. Malah, transaksi di sejumlah pasar emas terpantau ramai. Dan yang beli? Banyak yang mengincarnya sebagai sarana investasi, bukan sekadar perhiasan.
Di Pasar Emas Cikini, suasana itu terasa. Suki, salah satu pedagang di sana, punya pandangan jelas soal pilihan antara perhiasan dan logam mulia murni.
"Kalau beli perhiasan ya cukup untuk dipakai saja," katanya, saat kami berbincang di kiosnya, Kamis lalu.
"Tapi kalau tujuannya untuk disimpan, untuk masa depan, harusnya logam mulia. Jangan yang perhiasan."
Bagi Suki, logam mulia adalah instrumen yang jauh lebih tepat untuk simpanan jangka panjang. Alasannya klasik tapi tetap relevan: kemampuannya menjaga nilai uang dari gerusan inflasi dan kenaikan harga-harga. Dia bahkan menyebut, stabilitas nilai emas dan perak sudah teruji sejak zaman dulu.
"Emas dari dulu sampai sekarang nilainya tetap diakui. Bahkan, ada yang bilang emas dan perak itu 'uangnya Tuhan'," ujarnya sambil tertawa ringan.
Artikel Terkait
ESDM Buka Suara Soal Alih Kelola Tambang Martabe ke BUMN
Kemenperin Buka Suara Soal Strategi Pengrajin Emas Hadapi Lonjakan Harga
Analis Soroti Pelayaran: Saham Ini Jadi Incaran di Tengah IHSG Berguncang
CIMB Niaga Syariah Siapkan Langkah IPO Setelah Mandiri