Pandu Sjahrir: Regulator Harus Bertindak, IHSG Terancam Jatuh ke Kasta Frontier

- Kamis, 29 Januari 2026 | 15:06 WIB
Pandu Sjahrir: Regulator Harus Bertindak, IHSG Terancam Jatuh ke Kasta Frontier

Peringatan keras datang dari Danantara Indonesia. Mereka mendesak regulator untuk bersiap-siap. Pasalnya, ada ancaman serius bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita bisa turun kasta. Statusnya yang sekarang sebagai emerging market berisiko direvisi menjadi frontier market oleh penyusun indeks global.

Kekhawatiran ini muncul bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, IHSG sempat anjlok lebih dari 8 persen. Bahkan, trading halt atau penghentian perdagangan terpaksa dilakukan dua kali dalam dua hari berturut-turut. Semua ini berawal dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara proses rebalancing indeks di Indonesia. MSCI menunggu jaminan dari otoritas soal mekanisme free float yang lebih jelas.

Menurut Pandu Sjahrir, Chief of Investment (CIO) Danantara Indonesia, waktu yang dimiliki tidak banyak. Jika dalam kurun 4 bulan ke depan tidak ada perubahan dari regulator menanggapi peringatan MSCI, maka IHSG bisa saja jatuh.

"At the end regulator harus bisa bertindak. Saya lagi baca list frontier market, karena, kan, persiapannya ke frontier market sekarang. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya enggak tahu,"

Ucap Pandu tegas dalam acara Prasasti Economic Outlook 2026, Kamis (29/1) lalu.

Di sisi lain, Pandu menegaskan posisi Danantara. Sebagai investor, mereka hanya bisa menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada regulator. Baik itu BEI, OJK, maupun KSEI.

"Buat kami di Danantara, fokus kami berinvestasi. Tentu salah satunya di public market. Ya, kami ingin capital market yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit. Kami ingin pasar modal yang lebih sehat dan lebih baik,"

katanya.

Menariknya, Pandu punya pandangan lain soal gejolak yang terjadi. Baginya, masalahnya bukan semata pada investor yang dituduh menggoreng saham. Persoalan sebenarnya ada pada sistem dan aturan main yang dibuat regulator.

"Saya mungkin agak kenceng karena urusan-urusan bahasanya goreng-menggoreng. Bahasa saya never hate the player, hate the game. Saya enggak pernah nyalahin, kok, misalnya ada beberapa grup bisnis bilang oh sahamnya jadi naik. They're just playing the rule of the engagement,"

jelasnya.

"If you don't like the rule of engagement, change the rule of engagement. Ini balik ke regulator,"

tegas Pandu lagi.

Lalu, apa risikonya jika prediksi buruk itu benar-benar terjadi? Pandu memprediksi akan terjadi capital outflow atau aliran modal keluar yang masif. Ini sejalan dengan analis lain yang menyebut skenario terburum adalah turunnya status IHSG.

"Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market, kurang lebih USD 25-50 billion outflow,"

ungkapnya.

Kekhawatiran serupa ternyata juga diungkapkan oleh raksasa keuangan lain. Goldman Sachs Group Inc., misalnya, sudah lebih dulu menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Alasannya, kekhawatiran MSCI terkait aspek investability itu tadi. Mereka memperkirakan potensi arus keluar bisa mencapai lebih dari USD 13 miliar.

Para analis punya hitungan yang lebih rinci. Dalam skenario paling ekstrem, jika Indonesia benar-benar diklasifikasi ulang menjadi pasar frontier, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melepas saham senilai USD 7,8 miliar. Belum lagi, FTSE Russell juga bisa meninjau ulang metodologi dan status pasar kita. Jika itu terjadi, arus keluar tambahan sekitar USD 5,6 miliar bukan hal yang mustahil. Situasinya memang cukup pelik.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar