Namun begitu, tekanan dari potensi penurunan status ini bukan main-main. Apalagi, manajer dana aktif di kawasan saat ini kebanyakan justru overweight terhadap Indonesia. Kombinasi antara status yang terancam, tekanan pasar, dan likuiditas yang menipis, bisa memaksa investor jangka panjang untuk menyeimbangkan portofolio mereka. Tak menutup kemungkinan juga akan memicu aksi spekulatif dari hedge fund.
Semua ini berawal dari keputusan MSCI yang akan menangguhkan perubahan indeks termasuk penambahan saham baru sampai regulator kita menyelesaikan kekhawatiran mereka soal kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi.
UBS menambahkan faktor lain yang bikin investor waswas: risiko regulasi. Ini muncul setelah pernyataan Menkumham soal 28 perusahaan yang izin usahanya dicabut berpotensi dikelola oleh Danantara. Pemerintah memang sedang bersikap tegas, mencabut izin sejumlah perusahaan sumber daya alam, mengambil alih tambang nikel dan batu bara bernilai tinggi, serta mengonsolidasikan perkebunan sawit di bawah kendali negara.
“Kami menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan bertahan,” tulis analis UBS, Sunil Tirumalai dan tim.
“Sampai ada kejelasan terkait regulasi dan hasil peninjauan ulang dari MSCI.”
Jadi, jalan ke depan masih berliku. Semuanya kini bergantung pada bagaimana respons dan langkah konkret otoritas dalam memberi kejelasan kepada pasar global. Investor, sementara itu, hanya bisa menunggu dan mencermati setiap perkembangan.
Artikel Terkait
Mari Elka Pangestu Desak Pembentukan Badan Khusus untuk Koordinasi Investasi Hijau
Pandu Sjahrir Soroti Ancaman Degradasi Pasar Modal Indonesia
Pemerintah Genjot Koordinasi Jaga Harga Pangan Jelang Ramadan
Menteri Bappenas: Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak Ketimbang Buka Lapangan Kerja