Mimpi Setinggi Langit dari Ruang Belajar Beralaskan Lantai

- Kamis, 29 Januari 2026 | 11:24 WIB
Mimpi Setinggi Langit dari Ruang Belajar Beralaskan Lantai

Di tengah gegap gempita dunia digital, sosok guru ternyata tak pernah kehilangan relevansinya. Mereka adalah fondasi, titik awal yang menentukan arah generasi mendatang. Tugasnya jauh lebih dalam dari sekadar mentransfer ilmu; mereka membentuk karakter, menanamkan nilai, serta mengasah cara berpikir. Hal-hal yang tak mungkin digantikan oleh mesin atau teknologi secanggih apapun.

Nilai-nilai luhur seperti semangat, kesederhanaan, dan kebermanfaatan justru seringkali lahir dari ruang belajar yang apa adanya. Menariknya, semangat serupa juga terlihat dalam gerak langkah PNM. Perubahan besar, rupanya, bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dan ketulusan hati.

Ambil contoh kisah dari Serang, Banten. Di sana ada Hikayati, seorang perempuan tangguh binaan PNM Mekaar yang sehari-harinya mengabdi sebagai guru di sebuah Madrasah Diniyah (MDTA). Ia mengajar dengan penuh keikhlasan, meski ruang belajarnya sangat sederhana.

Hanya beralaskan lantai, ruang itu justru penuh dengan semangat. Bagi Hikayati, kebahagiaan sejati bukan soal materi. Ia merasa paling bahagia justru saat menyaksikan anak-anak didiknya lancar membaca, menulis, atau menghafal doa-doa harian.

“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” tutur Hikayati.

Namun begitu, kehidupan sebagai pengabdi masyarakat tak lantas membuatnya mengabaikan tanggung jawab pada keluarga. Di balik perannya sebagai guru, Hikayati juga mengelola usaha kecilnya. Inisiatif ini membantunya menopang ekonomi rumah tangga.

Dukungan yang ia terima membawa dampak nyata. Ia bisa tetap fokus mengajar tanpa harus terbebani urusan finansial. Modal usaha dan pendampingan berkelanjutan yang diberikan membantunya menemukan keseimbangan yang pas antara pengabdian dan kemandirian ekonomi.

Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, melihat kisah ini sebagai sebuah bukti nyata.

“kisah Ibu Hikayati menunjukkan bahwa saat seorang perempuan diberi akses untuk berdaya, ia tetap bisa mengabdi sambil menguatkan keluarganya. Kami percaya, ketika seorang ibu tumbuh, dampaknya terasa sampai ke anak-anak yang ia didik dan masa depan yang sedang mereka siapkan”.

Pada akhirnya, cerita ini seperti cermin. Ia memantulkan dua kekuatan yang saling menguatkan: ketulusan seorang guru dan ketangguhan seorang ibu. Dari ruang belajar yang sederhana dan usaha yang dijalani dengan tekun, terciptalah sebuah siklus positif. Lahirlah generasi yang lebih berilmu, sekaligus keluarga yang lebih mandiri.

Guru menabur benih harapan dan nilai-nilai kehidupan. Sementara seorang ibu yang tangguh membuktikan bahwa pengabdian dan upaya untuk mandiri bisa berjalan beriringan. Bersama, mereka menjadi cahaya mungkin tak terlalu terang, tapi pasti yang perlahan menerangi sekelilingnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar