Di tengah gegap gempita dunia digital, sosok guru ternyata tak pernah kehilangan relevansinya. Mereka adalah fondasi, titik awal yang menentukan arah generasi mendatang. Tugasnya jauh lebih dalam dari sekadar mentransfer ilmu; mereka membentuk karakter, menanamkan nilai, serta mengasah cara berpikir. Hal-hal yang tak mungkin digantikan oleh mesin atau teknologi secanggih apapun.
Nilai-nilai luhur seperti semangat, kesederhanaan, dan kebermanfaatan justru seringkali lahir dari ruang belajar yang apa adanya. Menariknya, semangat serupa juga terlihat dalam gerak langkah PNM. Perubahan besar, rupanya, bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dan ketulusan hati.
Ambil contoh kisah dari Serang, Banten. Di sana ada Hikayati, seorang perempuan tangguh binaan PNM Mekaar yang sehari-harinya mengabdi sebagai guru di sebuah Madrasah Diniyah (MDTA). Ia mengajar dengan penuh keikhlasan, meski ruang belajarnya sangat sederhana.
Hanya beralaskan lantai, ruang itu justru penuh dengan semangat. Bagi Hikayati, kebahagiaan sejati bukan soal materi. Ia merasa paling bahagia justru saat menyaksikan anak-anak didiknya lancar membaca, menulis, atau menghafal doa-doa harian.
“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” tutur Hikayati.
Namun begitu, kehidupan sebagai pengabdi masyarakat tak lantas membuatnya mengabaikan tanggung jawab pada keluarga. Di balik perannya sebagai guru, Hikayati juga mengelola usaha kecilnya. Inisiatif ini membantunya menopang ekonomi rumah tangga.
Artikel Terkait
OJK Siapkan Langkah Konkret Menjawab Pembekuan Saham oleh MSCI
IHSG Anjlok 5,91%, BEI Terpaksa Hentikan Perdagangan Sementara
Tambang Emas Martabe Bakal Dikendalikan BUMN Baru di Bawah Danantara
Menkeu Purbaya: IHSG Anjlok Cuma Shock Sementara, Target Kita 10.000!