Di tengah hiruk-pikuk COP30 di Brasil, Indonesia kedatangan tamu penting: Utusan Khusus China untuk Perubahan Iklim, Liu Zhenmin. Pertemuan ini jadi momen bagi Indonesia untuk membeberkan langkah-langkah konkretnya menghadapi krisis iklim.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dalam pertemuannya Selasa (18/11/2025) lalu, langsung menegaskan komitmennya. "Kami sudah menyerahkan Kontribusi Nasional Kedua atau SNDC," ujarnya. Dokumen itu, menurut Hanif, adalah bukti nyata bahwa ambisi Indonesia dalam hal mitigasi dan adaptasi iklim semakin ditingkatkan. Tak main-main.
Lalu, bagaimana cara mewujudkannya? Rupanya, pemerintah sudah menyiapkan sebuah Rencana Aksi Nasional yang cukup komprehensif. Rencana ini diharapkan bisa memandu pencapaian target-target iklim yang sudah ditetapkan. Di sisi lain, kerangka kerja tata kelola karbon juga terus diperkuat. Bahkan, pasar karbon dalam negeri sedang gencar dikembangkan. Tujuannya jelas: mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca secara lebih masif.
Nah, dalam hal ini, kolaborasi internasional dianggap kunci. Hanif pun menyoroti peran China. "Kami yakin banget dengan pengalaman dan keahlian Tiongkok," tambahnya. Teknologi hijau, energi terbarukan, serta pengelolaan lingkungan yang baik dari Tiongkok dinilai bisa membawa angin segar. Kemitraan ini diharapkan melahirkan solusi-solusi yang tidak hanya inovatif, tapi juga benar-benar efektif di lapangan.
Memang, menurut pengamatan Hanif, China terlihat sangat dominan dalam gelaran COP30 kali ini. Mereka aktif mengajak semua negara, terutama negara-negara berkembang, untuk bergandengan tangan. "Kita harus bersatu," tegasnya. Bersatu untuk merumuskan langkah-langkah operasional yang benar-benar bisa diandalkan dalam mencapai target emisi. Itu yang penting.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Lantik Andi Rahadian Jadi Dubes untuk Oman dan Yaman
Persita Hadapi Arema di Banten, Momentum dan Tekanan Jadi Bahan Pertimbangan
Tiga Orang Luka-Luka dalam Kecelakaan Truk Kontainer di Turunan Silayur Semarang
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis