Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali menguat pada Rabu kemarin. Ini sudah hari ketiga berturut-turut harganya naik, dan posisinya masih bertahan di kisaran level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Apa penyebabnya? Ternyata, sentimen dari pasar minyak nabati lain ikut mendorong.
Di Dalian, kontrak minyak kedelai dan palm olein sama-sama naik lebih dari satu persen. Sementara itu, di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga merangkak naik 0,81 persen. Seperti kita tahu, pergerakan harga minyak sawit seringkali mengikuti kompetitornya ini karena mereka berebut pangsa pasar global.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas di Sunvin Group Mumbai, menyoroti hal ini.
“Kontrak berjangka melanjutkan tren naik secara umum, ditopang sentimen bullish dari minyak kedelai Chicago, palm olein dan minyak kedelai Dalian, serta momentum kenaikan harga energi,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor penawaran juga berperan. Produksi yang lebih lemah diiringi ekspor yang masih sehat sepanjang Januari turut menjaga momentum bullish itu. Tapi, ceritanya nggak semulus itu.
Ada hambatan. Penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia membatasi ruang kenaikan lebih lanjut. Mata uang yang menguat cenderung mengurangi daya saing ekspor, sehingga jadi semacam rem bagi kenaikan harga CPO.
Di sisi lain, ada harapan dari faktor permintaan. Pasar memperkirakan permintaan akan membaik seiring mendekatnya perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan di Februari nanti. Pelaku pasar juga bersiap dengan prediksi penurunan tajam produksi Januari akibat faktor musiman hal yang wajar terjadi.
Faktor eksternal lain datang dari harga minyak mentah dunia yang kembali menguat. Kekhawatiran pasokan akibat badai musim dingin di AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah jadi pemicunya. Ini penting karena minyak sawit jadi lebih menarik untuk biodiesel ketika harga minyak bumi tinggi.
Data ekspor dari Malaysia sebenarnya cukup menggembirakan. Menurut surveyor kargo Intertek Testing Services, ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-25 Januari melonjak 9,97% dibanding bulan sebelumnya. AmSpec Agri Malaysia, perusahaan inspeksi independen, juga memperkirakan kenaikan, meski angkanya sedikit lebih rendah, yaitu 7,97%.
Namun begitu, suasana hati pasar tetap waspada. Mereka menanti rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) China untuk Januari, mengingat negeri Tirai Bambu itu adalah pembeli utama minyak sawit dunia. Hasil data itu bisa mempengaruhi sentimen. Belum lagi, keputusan suku bunga The Fed yang akan datang turut dicermati dengan seksama oleh para investor.
Jadi, meski ada angin segar dari banyak sisi, kenaikan harga CPO masih berjalan dengan hati-hati. Dihadang oleh Ringgit yang kuat dan ketidakpastian data ekonomi global, rally-nya untuk sementara ini terbatas.
Artikel Terkait
PT Bersama Mencapai Puncak Tbk Bangun Pabrik Sterilisasi Makanan di Malang, Targetkan Ekspor ke ASEAN dan Timur Tengah
Mantan Kapolri Sutarman Jadi Komisaris Utama Bukalapak, Fokus Perkuat Keamanan Siber
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor di Tuban, Targetkan Kirim 450 Ribu Ton Semen ke AS pada 2026
Bank Mandiri Siapkan Dana Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Obligasi Hijau Jatuh Tempo Juli 2026