“Mengingat rumusannya dilaksanakan oleh pemerintah dalam bentuk PP atau sekarang adalah RPP demutualisasi bursa dan saat ini masih dalam pembahasan untuk skema yang akan ditetapkan,” papar Mahendra soal proses yang masih berjalan.
Di sisi lain, internal BEI juga tak tinggal diam. Mereka paham betul kompleksitas perubahan ini. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian BEI, menegaskan bahwa pihaknya sedang menyiapkan studi yang komprehensif. Analisis mendalam ini penting sebelum segala usulan diajukan ke pemegang saham untuk diputuskan.
Intinya, BEI ingin memastikan model bisnis baru yang diusung benar-benar yang terbaik. Mereka mencari formula yang bisa memberikan manfaat optimal bagi seluruh ekosistem pasar modal.
“Jadi kami sebagai sebuah institusi, tadi saya sampaikan, kita tugasnya apa? Kita menyediakan studi yang komprehensif. Ini modelnya seperti apa? Yang nanti memberikan optimal benefit untuk capital market,” jelas Nyoman.
Prosesnya masih panjang, tapi targetnya sudah terpampang jelas. Semua mata kini tertuju pada paruh pertama 2026.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 8%, BEI Terpaksa Bekukan Perdagangan
BI Luncurkan Peta Jalan Ekonomi 2025: Optimisme, Komitmen, dan Sinergi Jadi Kunci
Harga Pangan di Tiga Provinsi Terdampak Bencana Mulai Stabil
MSCI Bekukan Perubahan Indeks, IHSG Tergelincir 7 Persen