Malam Jumat di Atap: Saat Air Hampir Menelan Kampung yang Tak Pernah Banjir

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 10:00 WIB
Malam Jumat di Atap: Saat Air Hampir Menelan Kampung yang Tak Pernah Banjir

Badai, Banjir, dan Doa di Malam Jumat yang Menegangkan

Semuanya berawal pada Rabu dini hari, 26 November 2025. Tepatnya sekitar pukul tiga pagi, badai angin menerjang Aceh Tamiang. Listrik padam sesaat. Beberapa pohon tumbang, termasuk di kawasan Tualang Cut yang dilewati jalan lintas Sumatera. Situasi makin parah karena hujan deras yang sudah mengguyur sejak Selasa tak kunjung reda hingga siang hari.

Akibatnya, beberapa kawasan mulai kebanjiran. Seruway, Sekerak, dan Bukit Rata terendam, memaksa warga mengungsi ke rumah saudara. Tapi itu baru permulaan.

Menjelang malam, usai salat Isya, air mulai merayap masuk ke Kampung Dalam. Padahal, menurut cerita orang-orang tua di sini, kampung ini belum pernah sekalipun kebanjiran, bahkan saat banjir besar melanda. Ada yang aneh. Meski ketinggian air baru sebatas betis, arusnya luar biasa deras. Jelas, ini bukan air genangan. Ini luapan sungai dari arah gunung.

Sekitar pukul sembilan lewat empat puluh tujuh menit, air akhirnya menerobos masuk ke dalam rumah kami. Saya dan keluarga paman langsung naik ke lantai dua. Kami cuma bisa menyelamatkan diri, tak sempat membawa banyak barang. Makanan, pakaian, obat-obatan? Tertinggal semua. Kami kira air paling banter hanya setinggi pinggang. Tapi ternyata salah.

Allah berkehendak lain. Listrik mati total. Air terus naik dengan cepat, dan pada Kamis pagi, 27 November, ketinggiannya sudah mencapai satu setengah meter. Kami coba turun sebentar ke dapur untuk mengambil sisa makanan, gas, dan kompor. Sinyal ponsel saat itu sudah timbul-tenggelam, sebelum akhirnya hilang sama sekali siang hari.

Pemandangan di luar membuat hati semakin ciut. Beberapa narapidana yang dilepas terlihat berjalan perlahan menyusuri air setinggi leher, mencari tempat berlindung. Tapi banyak warga yang menolak mereka. Rumah-rumah pun sudah sesak. Rumah kami yang cuma 3x3 meter saja menampung tujuh orang, termasuk satu balita. Tetangga bahkan menampung tiga puluh orang di lantai duanya. Syukurlah, beberapa toko yang punya lantai atas akhirnya bersedia menampung mereka.

Pukul sepuluh pagi, situasi berubah makin mencekam. Arus air bergejolak ganas, menghantam rumah-rumah hingga ada yang roboh. Alfamart tepat di depan rumah kami tak luput. Dinding belakangnya jebol, menyemburkan semua isi toko. Makanan berhamburan, tersangkut di rumah-rumah warga. Kejadian ini justru jadi berkah bagi yang kehabisan persediaan. Beberapa remaja nekat berenang dan memanjat atap untuk mengambil lalu membagikannya.

Menjelang Asar, air sudah setinggi tiga meter. Arusnya begitu kencang, tak ada lagi yang berani turun. Kami cuma bisa menunggu dan berharap. Pagi itu kami sudah coba hubungi tim SAR dan BPBD. SAR bilang cuma bisa sarankan evakuasi mandiri dan bertahan di lantai dua. Sementara dari BPBD, tak ada jawaban sama sekali.

Kepanikan memuncak ketika terdengar kabar dua orang, termasuk seorang anak kecil, hanyut terbawa arus. Suara teriakan histeris dan tangisan memenuhi udara. Semua berharap puluhan helikopter TNI-Polri segera datang. Tapi tak satu pun terdengar.

Malam pun tiba. Situasi genting. Air tinggal selangkah lagi mencapai lantai dua. Saat itulah, saya mengumandangkan adzan dengan suara sekeras mungkin, mencoba menenggelamkan deru air. Saya berharap suara itu didengar, menjadi pengingat bahwa kita masih punya Penolong.

Kami pun berdoa, berserah diri, dan bertaubat. Jika pun akhirnya hanyut, semoga kami mati dalam keadaan husnul khatimah.

Setelah Isya, suara arus di bawah terdengar seperti ombak lautan. Sangat menakutkan. Kami sudah siapkan terpal untuk naik ke atap. Paman dan bibi sudah naik lebih dulu. Saya dan yang lain menunggu, karena masih ada satu anak tangga tersisa.

Malam itu adalah malam Jumat. Saya teringat, inilah saat di mana semua doa diijabah. Sepanjang malam saya berdoa sambil menangis.

"Ya Allah, kami semua pendosa. Tapi setidaknya di antara kami ada orang yang saleh dan ikhlas beribadah kepada-Mu. Selamatkanlah kami karena mereka. Ya Allah, di sini ada anak kecil, balita, bayi di loteng rumah. Mereka belum berbuat dosa. Selamatkanlah kami karena mereka. Ya Allah, saya masih punya anak umur sebulan, istri, orang tua, dan empat adik. Beri saya kesempatan lagi untuk berbuat baik kepada mereka."

Saya lalu shalat dua rakaat, seolah-olah itu ibadah terakhir sebelum kami semua dihanyutkan air. Di atap, teriakan "tolong… tolong…" tak henti-hentinya. Tak ada yang bisa tidur. Suasana sungguh tidak menentu.

Dan kemudian, sepertinya Allah mengijabah doa kami.

Dari semalam sampai subuh, air berhenti naik. Hati kami sedikit lega. Tapi tantangan baru muncul: persediaan makanan dan air minum menipis. Beberapa bayi menangis kelaparan. Ada warga yang terpaksa menimba air banjir lalu memasaknya untuk diminum. Kami lebih beruntung, bisa memasak air hujan yang tertampung di terpal.

Lalu, hal yang tak terduga terjadi. Orang-orang di atap mulai melempar makanan dan tali ke rumah kami untuk kami teruskan ke rumah lain. Yang paling mengejutkan, yang aktif mengumpulkan dan melempar bantuan itu adalah para narapidana tadi orang-orang yang sempat ditolak hampir semua warga.

Mereka, pada hari itu, lebih layak disebut pahlawan. Lebih manusiawi dan bisa diandalkan daripada banyak pihak yang diharapkan datang.

Singkat cerita, air perlahan surut dari Jumat hingga Ahad pagi, 30 November. Saat air mulai menyusut, semua orang turun, mencari apa yang bisa diselamatkan dari puing-puing. Kami saling bertemu, bertanya nasib satu sama lain, dan menangis haru karena masih diberi kesempatan melihat matahari lagi.

Dari Ahad sampai Rabu, aktivitas warga adalah mencari makanan, gas, mencuci pakaian berlumpur, dan membersihkan rumah dari endapan lumpur setinggi lutut. Kabar dari pejalan kaki yang berenang menyusuri banjir untuk sampai ke Tamiang atau meninggalkannya terus berseliweran.

Rabu, 3 Desember, saya memutuskan pergi. Saya berjalan kaki dan menumpang truk yang lewat hingga tiba di Langsa. Di sana, baru ada sinyal. Saya bisa menghubungi keluarga yang sudah cemas menanti kabar.

Bencana ini adalah pengingat yang keras. Harta yang kita kumpulkan, kalau bukan kita yang meninggalkannya, dialah yang akan meninggalkan kita. Orang-orang kaya di Tamiang kehilangan segalanya dalam sekejap. Saat bencana datang, mobil, motor, rumah semua tak ada artinya lagi. Yang tersisa hanya rasa syukur karena nyawa masih dikandung badan.

Kita mengharapkan bantuan manusia, tapi yang datang menolong hanya Allah Ta'ala. Maka, jadikanlah Dia satu-satunya tempat bergantung.

Sekarang, yang mereka butuhkan sangat mendasar: obat, makanan, air bersih, pakaian, tempat tinggal. Bantuan sudah digalang. Saya mohon, jangan ada permainan di sini. Jangan ada yang korupsi dari penderitaan rakyat sendiri.

Pemerintah harus turun tangan cepat. Mereka adalah rakyat kalian. Kalian datang mengemis suara saat Pilkada. Kini saat mereka butuh, jangan menghilang. Kalau tidak mampu, jangan halangi bantuan dari pihak lain.

Apakah angka kematian harus jadi syarat bantuan datang? Umar bin Khattab saja gelisah jika ada satu rakyatnya kelaparan. Apakah kita harus menunggu survei korban dulu baru bertindak?

Dari lubuk hati paling dalam, saya memohon: bantulah mereka. Kerahkan semua yang kalian punya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar