Peran China di Afrika telah berubah secara dramatis. Dulu dikenal sebagai penyandang dana utama, kini Beijing justru lebih banyak menarik uang keluar dari benua itu. Pergeseran ini bukan hal kecil nilainya mencapai sekitar 52 miliar dolar AS.
Laporan “The Great Reversal” dari ONE Data for Development Finance Observatory mengungkap detailnya. Dalam lima tahun hingga 2014, China menyalurkan dana bersih sebesar USD 30,4 miliar ke Afrika. Tapi situasinya berbalik 180 derajat. Untuk periode lima tahun terakhir, justru tercatat arus keluar bersih sebesar USD 22,1 miliar. Artinya, Afrika lebih banyak membayar utangnya.
Menurut Bloomberg, perubahan ini mencerminkan strategi baru Beijing. Mereka tak lagi gencar memberikan pinjaman besar ke pemerintah, beralih ke proyek-proyek yang lebih kecil. Di saat yang sama, fokus mereka bergeser ke penagihan utang. Dampaknya tentu terasa luas di perekonomian banyak negara Afrika.
Data historis dari Reuters menunjukkan tren yang jelas. Periode 2010-2014 masih cerah, dengan arus masuk bersih sekitar USD 30 miliar. Bahkan sempat memuncak di 2015-2019 menjadi USD 34 miliar. Namun, segalanya berubah setelahnya.
Pada 2020-2024, angka masuk dari China merosot jadi USD 23,4 miliar. Sementara itu, arus keluar meledak hingga USD 45,4 miliar. Hasilnya? Defisit bersih sekitar USD 22 miliar bagi Afrika.
Laporan terpisah dari Boston University’s Global Development Policy Center juga mengonfirmasi tren penurunan yang tajam. Pinjaman China ke Afrika anjlok dari puncaknya USD 28,8 miliar pada 2016, menjadi hanya USD 2,1 miliar di tahun 2024. Angka yang kontras sekali.
Artikel Terkait
IHSG Terjun Bebas 6,71%, Rupiah Ikut Melemah di Tengah Sentimen Campur-Campur Asia
Pasar Komoditas Lesu, Harga Timah Anjlok 4,55 Persen
BELL Bidik Pertumbuhan 8 Persen, Andalkan Produk Unik dan Pesanan Khusus
Badai Musim Dingin AS Pukul Produksi Minyak, Harga Melonjak 3 Persen