Di sisi lain, justru lembaga multilateral yang semakin dominan. Menurut catatan ONE Data, pemberi pinjaman seperti Bank Dunia meningkatkan pembiayaan bersih ke negara berkembang hingga 124% dalam sepuluh tahun terakhir. Pada periode 2020-2024 saja, total pendanaan multilateral mencapai USD 378,7 miliar. Jumlah itu setara dengan 56% dari total arus dana bersih global dua kali lipat pangsanya dibanding satu dekade lalu.
Tapi, gambaran ini belum lengkap. Data-data tersebut belum memasukkan dampak pemangkasan bantuan yang baru berlaku tahun 2025. Penutupan USAID tahun lalu, ditambah penurunan alokasi dari negara maju lainnya, sudah mulai terasa tekanannya.
McNair dari ONE Data memperkirakan, ketika data 2025 keluar nanti, akan terlihat penurunan tajam dalam bantuan pembangunan resmi (ODA).
“Ini dampak negatif bersih bagi banyak negara Afrika,” katanya. Ruang fiskal untuk membiayai layanan publik dan investasi jadi semakin sempit.
Namun begitu, ada secercah sisi lain. Berkurangnya ketergantungan pada pendanaan asing bisa memaksa pemerintah untuk lebih kreatif dan akuntabel. Mereka terdorong mengandalkan sumber dalam negeri, yang mungkin saja justru membawa kedaulatan fiskal yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026
Elnusa Siapkan Empat Strategi Dukung Target Satu Juta Barel Minyak per Hari
Investor Asing Masih Melirik Manufaktur Indonesia, Fokus Beralih ke Industri Bernilai Tinggi
PANI Suntik Modal ke Tiga Anak Usaha untuk Kembangkan PIK2