Ngomong-ngomong soal bank sentral, China nampaknya belum kapok. Negeri Tirai Bambu itu tercatat terus membeli emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember lalu. Langkah ini mempertegas strategi mereka mendiversifikasi cadangan devisa, sebuah langkah bijak di tengah ketidakpastian global yang makin menjadi.
Di sisi lain, pergerakan logam mulia lainnya tampak beragam. Perak spot, misalnya, melesat 2,52 persen ke USD 105,54 per ons. Kenaikan ini mencerminkan kebutuhan industri sekaligus minat spekulatif yang ikut memanas.
Tapi tidak semua cerah. Platinum spot justru melemah tipis 0,03 persen, berada di angka USD 2.766,30 per ons. Sedangkan palladium sedikit lebih beruntung, naik 0,31 persen ke level USD 2.016,25. Jadi, meski emas jadi bintang utama, pasar logam mulia secara keseluruhan masih menunjukkan dinamikanya sendiri.
Dengan semua faktor ini, tren bullish emas diprediksi masih punya napas panjang. Namun begitu, pasar selalu penuh kejutan. Mari kita tunggu saja babak selanjutnya.
Artikel Terkait
Emas Antam Melonjak Rp 30.000, Pajak Pembelian Dihapus
IHSG Dibuka Menguat Tipis, Sektor Bahan Baku Melonjak 2%
IHSG Melesat, Sentuh Level 9.007 di Awal Pekan
BEI Kunci Saham BAIK Usai Harga Melonjak Tak Wajar