Untuk ADMR, ceritanya agak berbeda. Prospeknya ditopang oleh bisnis aluminium yang perannya kian besar. Michael menyebut, kontribusi aluminium terhadap bottom line ADMR diproyeksi bisa tembus lebih dari 50 persen di tahun 2025.
imbuhnya. Ia bahkan menyebut ada target harga di kisaran Rp2.400 untuk ADMR, didukung sinyal teknikal yang positif.
Di sisi lain, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, memberikan sudut pandang lain untuk AADI. Dikutip dari Dow Jones Newswires, ia memperkirakan laba AADI di tahun 2025 akan stabil di angka USD757 juta. Kunci utamanya ada pada peningkatan produksi dan disiplin dalam mengendalikan biaya.
Menurut Hasan, keunikan AADI terletak pada bisnis batu bara termalnya yang terintegrasi vertikal. Biaya kasnya termasuk rendah, dan yang menarik, perusahaan ini tak terbebani oleh belanja modal untuk transisi energi hijau yang kerap membebani kinerja emiten sejenis. Potensi pertumbuhan tambahan juga terbuka lebar dari pengembangan tambang Pari dan Ratah.
Atas pertimbangan itulah, Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi "beli" untuk AADI dengan target harga Rp10.000 per saham.
Perlu diingat, segala keputusan investasi ada di tangan Anda sendiri. Analisis ini hanya gambaran, bukan panduan mutlak.
Artikel Terkait
UKM Bisa Kuasai Tambang, Ini Syarat Jalur Prioritasnya
Agrinas Palma Cetak Laba Rp 1,6 Triliun di Tahun Pertama
Bank Mandiri Pacu Ekonomi Desa Lewat Kucuran Rp74,9 Triliun untuk UMKM
Pertamina Geothermal Rebut Proyek Panas Bumi 77 MW di Sumatera Barat